Ad Code

Mengendalikan Inflasi dari Halaman Rumah, Mungkinkah?

Sumber foto: liputan6.com

SEPERTI
lagu lama yang diputar kembali, setiap menjelang dan selama Ramadhan dan Idul Fitri, kita selalu dihadapkan pada harga kebutuhan pokok yang naik secara serentak dan terus menerus-menerus atau dalam kajian ekonomi sering kita sebut inflasi. Inflasi yang terjadi ini salah satu pemicunya adalah adanya kenaikan permintaan barang di pasar sementara sektor produksi kapasitasnya relatif tidak berubah. Akibatnya, mengikuti pola umum hukum ekonomi, jumlah relatif persediaan semakin sedikit dan harga-harga pun akan semakin melonjak serta seringkali tak terkendali.

Menurut data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat inflasi bulanan (MoM) pada Juni 2014 ini sebesar 0.43 persen. Angka ini merupakan angka inflasi yang paling rendah dan cukup terkendali dibandingkan dengan inflasi lima periode sebelumnya yaitu pada Juni 2010 inflasinya sebesar 0.97 persen, Juni 2011 sebesar 0.55 persen, Juni 2012 sebesar 0.62 persen, dan Juni 2013 sebesar 1.63 persen yang kemudian memasuki Ramadhan atau Juli 2013 melonjak menjadi 3.29 %.

Untuk mengendalikan inflasi, selama ini pemerintah telah membentuk tim khusus yang terdiri dari berbagai lintas kementerian maupun instansi, termasuk salah satunya Bank Indonesia. Sementara secara teknis-operasional pemerintah telah mengantisipasi kenaikan harga dengan menggelar operasi pasar, mengadakan pasar-pasar murah, menjaga persediaan barang dan menjamin sistem distribusi barang serta kebijakan-kebijakan lain termasuk membentuk Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi, di pusat maupun daerah.

Namun demikian, seperti yang seringkali dikampanyekan pemerintah sendiri, bahwa sesungguhnya masyarakat juga bisa berperan serta atau bersinergi dengan pemerintah dalam mengendalikan inflasi ini. Tidak mungkin inflasi ditangani oleh pemerintah sendiri sementara masyarakat mengabaikannya. Salah satu caranya adalah tidak panik dan tidak melakukan aksi borong serta tidak melakukan penimbunan terhadap barang-barang kebutuhan pokok, terutama di seputar bulan Ramadhan atau pada hari-hari besar lainnya. Dengan demikian persediaan barang di pasaran akan relatif tetap jumlahnya, harga juga relatif stabil, dan masyarakat juga yang akan diuntungkan.

Menggalakkan Pertanian

Selain itu, ini mungkin sebagai cara yang paling mudah, murah, dan sederhana, yaitu memulai kembali menggalakan pertanian di sekitar rumah dengan memanfaatkan halaman rumah ataupun pekarangan kita. Kenapa harus menggalakkan pertanian? Salah satu penyumbang inflasi selama ini adalah produk-produk pertanian. Selain beras dan daging, selama ini komoditas pertanian seperti cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, kentang, menjadi penyumbang terjadinya inflasi yang signifikan. Bahkan pada Juni 2013 lalu kita dikejutkan dengan inflasi yang disumbang oleh komoditas pertanian yang tak terduga sebelumnya, yaitu jengkol dan petai. Sebuah fenomena inflasi yang tidak biasanya dan tidak “bonafid” di negeri agraris ini. Inflasi yang disebabkan oleh komoditas yang selama ini seringkali kita anggap barang inferior.

Oleh karena itu, kita perlu mengintensifkan pemanfaat lahan di sekitar rumah dengan tanaman-tanaman yang kita butuhkan sendiri sekaligus tanaman yang sedikit-banyak akan meredam inflasi. Tanaman semacam cabai, bawang merah, bawang putih dan sebagainya yang selama ini sabagai penyumbang inflasi, sebenarnya bisa kita tanam di halaman rumah kita, baik di lahan langsung ataupun memanfaatkan pot dan polybag. Tentu saja ini dilakukan ketika belum memasuki bulan Ramadhan. Setidaknya 2-3 bulan sebelumnya, tergantung dari jenis tanaman yang ingin dipanen ketika datang bulan Ramadhan.

Secara ekonomi cara seperti ini jelas akan  menguntungkan jika dikelola dengan baik. Disaat harga semacam cabai, tomat, dan berbagai sayuran atau bumbu-bumbuan harganya melambung, terutama di bulan Ramadhan seperti saat ini, kita tak terlalu kawatir karena kebutuhan itu bisa dipenuhi dari halaman rumah sendiri.

Sementara itu, pemerintah melalui Bank Indonesia misalnya, yang selama ini juga telah konsen dengan pertanian, yaitu melalui pemberian bantuan bibit dan pendampingan selama proses tanam sampai panen, perlu juga mendorong dan memberikan wawasan kepada masyarakat umum yang awam dengan pertanian untuk kembali menengok dunia pertanian, terutama masyarakat kota yang sesungguhnya “jauh” dari dunia pertanian. Mereka bisa diperkenalkan dengan model-model pertanian kota yang bisa dikembangkan di sekitar rumah, yang tidak harus memerlukan lahan luas. Ini seperti yang telah di lakukan Bank Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kota Medan beberapa waktu lalu dalam mengembangkan pertanian kota [http://medanbisnisdaily.com].

Tentu saja hal tersebut perlu kita apresiasi. Jika hal seperti itu berhasil dengan optimal, maka kita tak perlu lagi kawatir dengan produksi ataupun ketersedian barang kebutuhan pokok ini, apalagi dengan inflasi. Setidaknya apa yang telah dilakukan Bank Indonesia dalam membina petani selama ini, yaitu memberikan bibit dan pemodalan serta pendampingan untuk pengembangan cabai dan bawang merah sedikit-banyak mulai terlihat. Kalau tahun lalu dua komoditas ini cukup besar sumbangan terhadap terjadinya inflasi, tahun ini sudah mulai turun, tidak sebesar tahun sebelumnya.

Selain itu, dengan berkembangnya pertanian di sekitar rumah, manfaatnya bukan saja sebagai penghasil bahan pangan dan untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga akan memberikan suasana asri dan nilai estetika yang tak ternilai, apalagi jika di halaman rumah juga ditanami dengan berbagai macam tanaman, tentu akan memberikan kenyamanan dan kesejukan tersendiri. Dan dengan peran serta Bank Indonesia yang intensif memberikan beragam “insentif” kepada masyarakat tani, kegiatan semacam ini mudah-mudahan bisa terus dikembangkan. Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code