Ad Code

Ironi Konsumsi di Bulan Suci

Sumber gambar: Istockphoto

RAMADAN adalah bulan suci bagi umat muslim di seluruh dunia, di mana mereka berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama Ramadan, konsumsi makanan dan minuman di siang hari tidak diperbolehkan dan baru diperbolehkan makan dan minum setelah matahari terbenam. Ironisnya, meskipun konsumsi makanan dan minuman di siang hari selama Ramadan tidak diperbolehkan, tingkat konsumsi makanan dan minuman selama Ramadan seringkali meningkat secara signifikan.

Banyak faktor penyebab mengapa ini bisa terjadi. Pertama, ada kebiasaan yang sudah menjadi tradisi dalam budaya kita, yaitu meningkatkan konsumsi makanan dan minuman saat berbuka puasa. Saat berbuka, kita cenderung merasa lapar dan haus sehingga membutuhkan asupan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Seringkali kita berpikir bahwa berbuka harus dengan makanan lezat dan berlimpah, sehingga kita cenderung membeli dan mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Selain itu menjelang berbuka kita seringkali kalap dalam menyantap berbagai hidangan.

Kedua, pada saat berbuka puasa, orang biasanya berkumpul bersama keluarga, kolega, atau teman-teman sejawat untuk berbuka puasa bersama, sehingga membuat suasana yang lebih meriah dan membuat orang terlena dan ingin mengonsumsi lebih banyak makanan.

Ketiga, penganan khas yang hanya dihidangkan selama Ramadan seperti kolak, takjil, kurma, dan hidangan-hidangan lainnya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk mencicipinya. Hal ini membuat orang cenderung ingin mencoba berbagai jenis makanan baru, sehingga meningkatkan konsumsinya.

Tiga faktor itulah setidaknya yang membuat konsumsi kita meningkat di bulan suci ini. Padahal, perilaku tersebut dapat menyebabkan pemborosan, konsumsi berlebihan, serta meningkatkan risiko obesitas dan penyakit-penyakit lainnya, termasuk juga kerugian sumber daya alam dan kerusakan lingkungan dalam proses produksinya.

Food Waste

Salah satu dampak akibat makanan berlebih dan tak habis konsumsi adalah adanya sisa makanan yang seringkali harus terbuang percuma. Terkait sisa makanan (food waste) maupun kehilangan makanan (food loss), Indonesia merupakan negara nomor dua penghasil limbah makanan setelah Arab Saudi.

Menurut laporan Bappenas pada 2021, food waste dan food loss di Indonesia selama 2000–2019 mencapai 150–184 kg per kapita per tahun yang angka ini setara dengan makanan 30% – 40% populasi kita. Jumlah ini juga setara dengan 4%-5% GDP Indonesia.

Food waste atau limbah pangan terjadi di tingkat pasar ritel sampai di tingkat konsumen. Pangan terbuang akibat tidak laku ataupun penyia-nyiaan di tingkat konsumen, termasuk makan berlebihan dan tidak dihabiskan. Sedangkan, food loss adalah bahan pangan yang terbuang dalam rantai pasok dari petani ke pasar karena berbagai faktor penyebab.

Food waste atau limbah makanan sudah menjadi isu global karena dampak luar biasa pada lingkungan, ekonomi, dan sosial. Pada lingkungan misalnya, limbah makanan berkontribusi secara signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, karena pembusukan makanan menghasilkan metana, yang merupakan gas rumah kaca yang kuat.

Selain itu, produksi dan pembuangan makanan membutuhkan sumber daya yang signifikan, seperti air, tanah, energi, dan tenaga kerja, yang selanjutnya dapat memperburuk masalah lingkungan. Sedangkan secara ekonomi, limbah makanan juga memiliki opportunity cost yang signifikan, yaitu hilangnya sumber daya berharga yang sebenarnya dapat digunakan untuk memproduksi barang lain dan dapat menyebabkan harga pangan melonjak, terutama bagi masyarakat rawan pangan.

Kemudian dampak sosialnya, pemborosan dan menyia-nyiakan makanan adalah persoalan moral karena kita membuang makanan, sementara jutaan orang di dunia menderita kelaparan dan kekurangan gizi.

Kesadaran Spiritual dan Berbagi

Umat muslim sudah seharusnya mengembalikan makna sebenarnya dari puasa, yaitu meningkatkan kesadaran spiritual dan berbagi. Kita memang perlu memperhatikan pentingnya asupan yang sehat dan seimbang selama Ramadan, namun harus tetap menghindari pemborosan dan konsumsi yang berlebihan.

Selain itu, yang paling penting terkait fenomena tersebut adalah perlunya berbagi makanan dengan sesama yang membutuhkan sehingga bulan suci menjadi momentum yang lebih bermakna dan bermanfaat. Kegiatan berbagi makanan selain dapat mengurangi pangan yang berlebihan juga dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat kohesi sosial dan membantu mengurangi masalah kelaparan, kemiskinan dan kesenjangan. Ini sekaligus sebagai upaya memperbanyak amal kebajikan di bulan suci, baik dilakukan secara komunal maupun individual.

Secara komunal bisa melalui organisasi sosial, lembaga pemerintah atau bahkan instansi tempat beraktivitas atau bekerja yang mengadakan berbagai makanan selama Ramadan, baik secara langsung dengan menyalurkan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, maupun dengan memberikan donasi makanan kepada lembaga-lembaga yang membutuhkan seperti panti asuhan atau lembaga-lembaga sosial lainnya.

Sedangkan secara individual dapat melakukan kegiatan berbagi makanan dengan cara menyiapkan makanan berbuka puasa dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan, atau dengan memberikan donasi makanan atau uang kepada lembaga-lembaga sosial yang mengadakan kegiatan berbagi makanan.

Sekali lagi, penting untuk digarisbawahi bahwa tujuan utama puasa Ramadan bukanlah untuk makan dan minum sebanyak mungkin pada malam hari saat berbuka puasa. Sebaliknya, puasa selama Ramadan bertujuan untuk mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan rasa solidaritas dengan orang-orang yang kurang beruntung.

Oleh karena itu, sangat penting juga untuk menjaga konsumsi makanan dan minuman yang sehat dan terkendali selama Ramadan, serta fokus pada tujuan spiritual di bulan suci ini. Dan, sebagai orang beriman, sudah sepatutnya ikut serta mengamankan ketahanan pangan sendiri dan ketahanan pangan orang atau makhluk lainnya di semesta ini.

*Tulisan ini terbit pertama kali di https://news.detik.com/kolom/d-6673080/ironi-konsumsi-di-bulan-suci


Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code