![]() |
| Kredit Konsumsi [Ilustrasi: iStockphoto] |
RAMADAN biasanya selalu identik dengan lonjakan konsumsi. Kita belanja lebih banyak, menyiapkan kebutuhan Lebaran, hingga merencanakan mudik. Dalam kondisi normal, momen ini juga mendorong peningkatan kredit konsumsi karena kita merasa lebih percaya diri untuk berutang. Namun, tahun ini terasa berbeda. Alih-alih menguat, pertumbuhan kredit justru melambat. Ini menjadi sinyal bahwa ada yang sedang berubah dalam daya beli kita.
Kalau kita melihat data terbaru, sebenarnya awal tahun 2026 sempat memberi harapan. Pada Januari, kredit perbankan masih tumbuh sekitar 10,2 persen secara tahunan, bahkan lebih tinggi dibandingkan akhir 2025 . Kredit konsumsi juga masih mencatat pertumbuhan sekitar 7,2 persen, meski sudah mulai menunjukkan tanda perlambatan di beberapa segmen . Artinya, secara umum, aktivitas ekonomi masih bergerak cukup baik di awal tahun.
Namun, memasuki Februari, ritmenya mulai berubah. Pertumbuhan kredit melambat, termasuk kredit konsumsi yang tidak lagi sekuat bulan sebelumnya. Padahal, ini adalah periode Ramadan yang biasanya justru mendorong permintaan. Di sinilah kita melihat bahwa perlambatan ini bukan sekadar faktor musiman, melainkan ada tekanan yang lebih dalam.
Ketika kredit konsumsi melambat, itu menunjukkan kita sedang lebih berhati-hati. Kita tidak lagi dengan mudah mengambil cicilan tambahan. Bukan karena kita berhenti konsumsi, tetapi karena kita mulai ragu dengan kemampuan keuangan ke depan. Ada pergeseran sikap dari ekspansif menjadi defensif.
Menariknya, konsumsi sebenarnya tetap berjalan. Kita tetap belanja, tetap memenuhi kebutuhan Ramadan, dan menjaga tradisi yang sudah ada. Namun, cara kita membiayainya berubah. Kita lebih mengandalkan uang yang tersedia, bahkan jika harus mengurangi tabungan. Ini menandakan adanya tekanan pada arus kas rumah tangga, terutama di kelas menengah.
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja. Semakin banyak dari kita yang menghadapi pendapatan tidak tetap atau berada di sektor informal. Dalam situasi seperti ini, mengambil utang menjadi keputusan yang penuh risiko. Kita cenderung menahan diri karena khawatir tidak mampu memenuhi kewajiban di masa depan.
Di sisi lain, perbankan juga tidak sepenuhnya longgar. Walaupun likuiditas cukup memadai dan kapasitas penyaluran kredit masih besar, bank tetap selektif, terutama pada kredit konsumsi yang dinilai lebih berisiko. Bahkan, masih ada ruang kredit yang belum tersalurkan dalam jumlah besar, menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada sisi penawaran, tetapi juga permintaan yang melemah .
Yang perlu kita sadari, kondisi ini muncul bahkan sebelum tekanan global meningkat. Artinya, akar masalahnya memang berasal dari dalam negeri. Ketika harga energi dan pangan berpotensi naik, tekanan terhadap keuangan rumah tangga bisa semakin terasa.
Jika kita tarik lebih jauh, perlambatan kredit konsumsi ini sesungguhkan cerminan dari kondisi yang kita alami sehari-hari. Cermin daya beli yang mulai tergerus, pendapatan yang terasa tidak pasti, dan kecenderungan untuk bermain aman. Jika tren ini berlanjut, peran konsumsi sebagai penggerak utama ekonomi bisa ikut melemah. Ke depan, harapan tentu masih ada. Bank Indonesia sendiri masih memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8 hingga 12 persen. Namun, angka tersebut tidak akan tercapai secara otomatis jika kondisi rumah tangga tidak membaik.
Ramadan tahun ini memberi kita pelajaran penting. Tradisi konsumsi ternyata tidak cukup untuk menjaga ekonomi tetap bergairah. Ketika rasa aman finansial kita melemah, kita cenderung menahan diri. Dari sini kita bisa melihat bahwa daya beli bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal keyakinan kita terhadap masa depan.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!