7 Negara dengan Konsumsi Mi Instan Terbesar, Indonesia Nomor Berapa?


ADA makanan yang hadir ketika kita sedang terburu-buru, kehabisan ide untuk makan, atau sekadar ingin menikmati sesuatu yang sederhana tetapi akrab di lidah. Mi instan adalah salah satunya. Dari dapur rumah, kamar kos, warung kecil hingga meja makan keluarga, mi instan telah menjadi bagian dari keseharian kita.

Data terbaru World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan bahwa permintaan mi instan dunia mencapai 124,21 miliar porsi pada 2025. Indonesia berada di posisi kedua dengan konsumsi 14,54 miliar porsi, setelah China dan Hong Kong yang mencapai 43,27 miliar porsi.

Jika kita melihat 7 negara dengan konsumsi terbesar, gambarnya cukup menarik. China dan Hong Kong berada di urutan pertama. Besarnya konsumsi tidak terlalu mengejutkan mengingat jumlah penduduk dan kuatnya budaya mi dalam kehidupan kuliner di kawasan tersebut.

Indonesia menempati posisi kedua. Pada 2025, masyarakat kita mengonsumsi sekitar 14,54 miliar porsi. Angka ini memang sedikit turun dibandingkan 2024 yang mencapai 14,68 miliar porsi, tetapi tetap menempatkan Indonesia sebagai konsumen terbesar kedua dunia.

India berada di posisi ketiga dengan 9,60 miliar porsi. Menariknya, permintaan di India justru meningkat cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Vietnam menyusul dengan 8,23 miliar porsi, sementara Jepang berada di urutan kelima dengan 5,95 miliar porsi. Amerika Serikat dan Filipina melengkapi tujuh besar dengan masing-masing 5,23 miliar dan 4,34 miliar porsi.

Angka-angka tersebut memberi kita satu pelajaran sederhana. Mi instan bukan lagi sekadar makanan praktis tetapi telah menjadi bagian dari industri pangan global dengan permintaan yang sangat besar.

Di Indonesia, kedekatan kita dengan mi instan juga tidak semata-mata soal rasa. Harga yang relatif terjangkau, cara memasak yang mudah, pilihan rasa yang beragam, serta kemampuannya dipadukan dengan telur, sayuran, cabai atau lauk lain membuat mi instan mudah masuk ke berbagai situasi kehidupan.

Namun, besarnya konsumsi juga mengingatkan kita untuk tidak menjadikan mi instan sebagai satu-satunya pilihan makanan. Praktis boleh, tetapi pola makan tetap perlu beragam dan seimbang. Dan mi instan mungkin sederhana. Tetapi dari semangkuk mi, kita bisa membaca sesuatu yang lebih besar. Mulai perubahan gaya hidup, daya beli, budaya makan, hingga wajah industri pangan dunia.

Posting Komentar

0 Komentar