Soto Bogor dan Semangkuk Kenangan dari Kota Hujan

Soto Mie Bogor [Foto: iStockphoto]

ADA kota yang kita ingat karena bangunannya. Ada pula kota yang menetap dalam ingatan karena aroma, suara, dan rasa yang pernah menyertai perjalanan hidup kita. Bagi saya, Bogor adalah salah satunya. Lebih dari dua puluh tahun lalu, saya pernah tinggal di kota ini untuk beberapa tahun. Waktu memang telah berjalan jauh, tetapi beberapa kenangan tentang Bogor seperti tidak pernah benar-benar pergi. Salah satunya adalah semangkuk soto hangat yang terasa begitu akrab.

Bogor memang punya banyak ikon. Kebun Raya, hujan yang datang hampir seperti jadwal harian, hingga jalan-jalan kota yang selalu menyimpan cerita (kemacetan). Namun, bagi pencinta kuliner, ada satu hal yang rasanya sulit dipisahkan dari perjalanan ke Kota Hujan, yaitu Soto Bogor.

Soto Bogor bukan sekadar makanan berkuah, tetapi merupakan hasil perjalanan panjang sebuah kota yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai masyarakat dan kebudayaan. Pada masa kolonial, Bogor dikenal sebagai Buitenzorg dan berkembang sebagai salah satu pusat pemerintahan serta tempat persinggahan. Pertemuan orang dari berbagai daerah ikut membawa beragam kebiasaan makan dan kemudian melahirkan adaptasi kuliner lokal.

Yang membuat Soto Bogor menarik adalah keragaman bentuknya. Kita mengenal soto kuning dengan kuah berbumbu dan santan, tetapi ada pula soto dengan kuah bening. Daging sapi dan jeroan menjadi bagian yang lazim, sementara rempah memberikan aroma yang kuat. Di beberapa sajian, pelengkap seperti tauge, seledri, bawang goreng, perkedel, telur, hingga kerupuk ikut menyempurnakan pengalaman makan. 

Ada pula saudara dekat yang sangat terkenal, yaitu Soto Mie Bogor. Mie kuning, bihun, daging sapi, kikil, sayuran, dan risol goreng bertemu dalam semangkuk kuah panas. Hidangan ini menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi ruang akulturasi berbagai budaya.

Menariknya, sejarah persis kapan istilah “Soto Bogor” mulai digunakan memang tidak memiliki dokumentasi tunggal yang benar-benar pasti. Tetapi perjalanan para pedagang lokal membuat nama itu semakin melekat. Bahkan, salah satu penjual yang terdokumentasi, Soto Bogor Pak Djaja, telah berjualan sejak 1945 dengan cara dipikul berkeliling Kota Bogor sebelum kemudian mangkal di kawasan Pasar Anyar. Mungkin itulah kekuatan makanan yang mampu membawa kita pulang tanpa harus benar-benar kembali. 

Ketika membayangkan Bogor hari ini, saya seperti kembali menjadi seseorang yang tinggal di sana lebih dari dua dekade silam. Hujan turun, udara menjadi dingin, lalu dari sebuah warung sederhana mengepul aroma kuah soto. Kita duduk, menyendok kuah perlahan, dan tiba-tiba masa lalu terasa begitu dekat.

Bogor boleh berubah. Jalan-jalannya mungkin semakin ramai, bangunannya semakin banyak, dan waktu terus membawa kota itu ke masa depan. Tetapi semangkuk soto mengajarkan kita bahwa perjalanan sebuah kota juga tersimpan dalam rasa. Dan barangkali, ketika suatu hari kembali ke Bogor, saya tidak perlu mencari masa lalu, apatah lagi rasa masa lalu. Cukup menikmati semangkuk Soto Bogor yang hangat, lalu membiarkan masa lalau itu datang sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar