MASIH soal Ryan, yang media sering menyebutnya sebagai Sang Penjagal dari Jombang, yang beberapa waktu lalu saya juga sempat sedikit memberi komentar dalam blog ini. Namun, kali ini saya tidak ingin berkomentar banyak tentang Ryan, apalagi menghujat habis-habisan, takutnya komentar dan hujatan saya lebih sadis dari apa yang dilakukan Ryan. Demikian juga saya tak ingin menghakiminya, biar hakim saja yang nanti menghakiminya. Meskipun tak pernah membunuh seperti yang dilakukan Ryan, bukan berarti saya lebih baik dari Ryan. Saya merasa masih sering melakukan tindakan-tindakan yang tak kalah sadisnya. Sadar atau tanpa saya sadari saya sering kali "memutilasi" hak-hak lingkungan sekitar saya!

Langsung saja, inilah isi surat Ryan yang saya ”cangkul” langsung dari Jawa Pos-Radar Mojokerto edisi Rabu, 20 Agustus 2008 kemarin.

”Assalamualaikum... Ibu, Ayah, Mas Sis, Mbak Win, juga semua keponakanku, Mbak Neny juga Mas Jarwo, serta semua keluargaku yang belum aku sebut di sini. Sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, karena telah membuat kalian semua malu, juga banyak masalah karena ulahku. Dengan segenap perasaanku, aku mohon kalian bisa memaafkan juga mau berdoa buat aku. Aku mencintai kalian semua.

Ibu, Ayah, saat menulis surat ini aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku. Aku sedih, aku ingin ada yang bisa memeluk aku, meski cuman sebentar. Ibu, Ayah, juga kakak-kakakku, aku minta maaf. Aku tidak pernah minta dilahirkan sebagai homo/gay. Jujur aku tersiksa dengan perasaan ini. Sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan menunggu hukuman mati. Demi Allah aku ingin memeluk kalian semua, biar aku lega dan tenang. Terkadang aku selalu ingin melakukan bunuh diri.

Ibu, Ayah, juga kakak-kakakku, ada yang nawarin aku untuk mengontrakku. Semua kisahku ditulis dalam buku dan akan diterbitkan di Indonesia juga di seluruh dunia. Ada juga produser film yang ingin memfilmkan kehidupanku. Aku minta ijin kalian semia, nanti royaltinya langsung dikasihkan ke kalian. Kata mereka, Ayah sama Ibu akan dibawa ke Jakarta untuk sementara. Mereka akan carikan rumah buat Ayah sama Ibu, tujuannya biar ada yang jenguk aku selama masa persidangan. Ayah, Ibu, aku kangen sama kalian. Mas, kalau Arin tidak sibuk, biar dia yang menemani Ibu sama Ayah di Jakarta. Aku mohon Mas jenguk aku, aku butuh kalian. Tidak ada satu orang pun yang jenguk aku di sini. Aku ingin cium kaki Ibu juga Ayah. Aku benar-benar berharap, kalian datang secepatnya. Karena semua ongkos akan ditanggung, juga semua biaya hidup untuk kalian selama di Jakarta.

Dalam hati kecilku yang paling dalam, aku ingin banget bisa berbakti sama kalian. Tapi mungkin aku tidak tahu caranya. Dari dalam penjara ini aku sering nangis, dan aku pingin banget bisa berbuat baik di akhir-akhir hidupku. Kalau kalian ada waktu, aku mohon banyak keluargaku yang datang ya...buat jenguk aku.

Aku juga ingin ngobrol tentang pembagian royalti dari produser, biar nantinya tidak ada kecurangan dari mereka. Sekali lagi aku mohon, secepatnya kalian datang ke Jakarta. Mohon doanya. Wassalam, Very Idam H.”

Begitulah isi surat Ryan kepada Ibu, Ayah dan keluarganya. Yang terbersit dalam pikiran saya setelah membaca suratnya ini, meskipun kata banyak orang kelakuan Ryan itu sangat sadis, ternyata Ryan juga manusia yang punya rasa, punya cinta, bisa menangis, menyesal, sedih dan ingin bertaubat, terlepas dari surat ini benar-benar keluar dari hati terdalamnya atau tidak, itu saya tidak tahu dan wallahualam. Meskipun biasanya orang yang pernah sekali berbohong, untuk menutupi kebohongannya itu akan melakukan kebohongan-kebohongan lain yang lebih banyak lagi. Tetapi saya tetap berharap mudah-mudahan apa yang diungkapkannya lewat surat itu tulus dan keluar dari hati nuraninya, tidak mengecoh atau tak sekadar mencari sensasi dan simpati. Bagaimanapun juga, tindakannya selama ini juga membuat orang lain banyak yang kecewa.