Ad Code

Ketupat dan Opor dalam Identitas Kuliner Nusantara

Hidangan ketupat lebaran [Foto: Getty Images]

SETIAP Lebaran tiba, kita selalu kembali pada meja makan yang akrab dengan ketupat dan opor ayam. Di tengah ragam kuliner modern dan hidangan kekinian, dua menu ini tetap bertahan sebagai penanda yang sulit tergeser. Ketupat dan opor bukan sekadar makanan perayaan, melainkan bagian dari cara kita memahami tradisi, keluarga, dan makna kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Ketupat menyimpan jejak sejarah dan simbol yang dalam. Dalam kajian yang dipublikasikan oleh Journal of Ethnic Foods, tradisi kupatan di Jawa dijelaskan sebagai bentuk ekspresi religius sekaligus sosial yang berkembang melalui akulturasi budaya lokal dan Islam. Kita mengenal tafsir populer tentang ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang rumit melambangkan kompleksitas hidup, sementara beras putih di dalamnya merepresentasikan hati yang kembali bersih setelah Ramadan.

Proses membuat ketupat juga sarat makna. Kita menganyam janur dengan telaten, mengisi beras, lalu merebusnya berjam jam hingga padat. Aktivitas ini sering dilakukan bersama anggota keluarga, menciptakan ruang percakapan dan kebersamaan yang jarang terjadi di hari biasa. Di desa maupun kota, tradisi ini tetap hidup, meski sebagian orang kini memilih membeli ketupat jadi demi kepraktisan.

Opor ayam hadir sebagai pasangan yang hampir tak terpisahkan. Kuah santan yang gurih dengan aroma serai, lengkuas, dan daun salam memberi rasa hangat yang khas. Hidangan ini berkembang dari tradisi kuliner Jawa, lalu menyebar luas dan beradaptasi dengan cita rasa daerah lain. Kita menemukan variasi opor dengan bumbu lebih kuat di pesisir, atau lebih ringan di wilayah pedalaman, tetapi esensinya tetap sama sebagai lauk utama Lebaran.

Data terbaru menunjukkan betapa kuatnya posisi ketupat dan opor dalam preferensi masyarakat. Survei yang dirilis oleh GoodStats pada 2026 terhadap seribu responden di berbagai provinsi mencatat sekitar 32 persen responden menyebut ketupat sebagai hidangan wajib Lebaran. Sekitar 31 persen lainnya memilih opor ayam sebagai menu utama yang tidak boleh absen. Angka ini menempatkan keduanya di urutan teratas, melampaui rendang, sambal goreng kentang, dan sate.

Kita bisa membaca data tersebut sebagai cermin daya tahan identitas kuliner. Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren global, masyarakat tetap memprioritaskan menu yang sarat simbol. Ketupat dan opor menjadi bahasa bersama yang dipahami lintas generasi. Anak anak yang mungkin sehari hari akrab dengan makanan instan tetap menantikan momen menyantap ketupat hangat bersama keluarga.

Lebaran memang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas mudik dan silaturahmi. Pada 2026, Kementerian Perhubungan memperkirakan lebih dari 190 juta orang melakukan perjalanan selama periode Idul Fitri. Kita membayangkan jutaan rumah di berbagai daerah yang menyiapkan menu serupa pada hari yang sama. Ketika ketupat dan opor tersaji serentak di meja makan dari Sabang hingga Merauke, di situlah identitas kolektif itu terasa nyata.

Menariknya, ketupat dan opor juga memperlihatkan fleksibilitas budaya kita. Ada keluarga yang menambahkan sambal goreng hati, ada yang menyandingkannya dengan rendang atau sayur labu. Namun pusatnya tetap pada dua menu utama tersebut. Kita bebas berkreasi, tetapi tetap berakar pada tradisi yang diwariskan turun temurun.

Dalam konteks ekonomi, permintaan bahan pangan untuk ketupat dan opor setiap Lebaran turut menggerakkan sektor pertanian dan peternakan. Konsumsi beras, ayam, santan, dan bumbu dapur meningkat signifikan menjelang Idul Fitri. Kita melihat bagaimana tradisi kuliner bukan hanya persoalan simbolik, tetapi juga berdampak pada perputaran ekonomi rakyat.

Di tengah kehidupan yang kian individualistis, tradisi menyantap ketupat dan opor menghadirkan kembali ruang komunal. Kita duduk melingkar, saling menyendokkan kuah, berbagi cerita, dan memaafkan kesalahan. Makanan menjadi medium yang lembut untuk merawat relasi sosial. Saat kita menggigit ketupat yang padat dan merasakan gurihnya opor, yang hadir bukan hanya rasa, melainkan kesadaran bahwa kita bagian dari tradisi besar yang sama. Dari meja makan sederhana itulah identitas kuliner Nusantara terus dirawat, disyukuri, dan diwariskan dengan penuh cinta.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code