Dalam perspektif ekonomi, kita bisa membaca dari sisi harga sarung. Data terbaru menunjukkan bahwa harga sarung di Indonesia sangat beragam, mulai dari sekitar Rp50 ribu hingga ratusan ribu untuk kelas menengah seperti Mangga, Saphire, Gajah Duduk, Wadimor atau Atlas varian reguler. Namun, pada spektrum lain, ada sarung premium seperti BHS Masterpiece yang bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp13 juta per helai. Rentang harga yang ekstrem ini bukan hanya soal bahan, tetapi juga soal positioning, di mana sarung ditempatkan dalam struktur sosial.
Kita pun mulai sadar bahwa harga sarung bukan hanya mencerminkan kualitas kain, tetapi juga nilai simbolik. Sarung murah memenuhi fungsi dasar menutup tubuh dan memberi kenyamanan. Sementara sarung mahal membawa pesan lain seperti prestise, eksklusivitas, bahkan kebanggaan. Dalam banyak konteks, terutama acara keagamaan atau sosial, sarung bisa menjadi “penanda diam” tentang siapa kita.
Di titik ini, merek memainkan peran penting. Nama seperti BHS, Atlas, atau Wadimor tidak sekadar label, melainkan narasi dan persepsi. Wadimor, misalnya, dikenal luas dan menjangkau kelas menengah dengan harga relatif terjangkau. Atlas hadir dengan variasi luas, dari yang ekonomis hingga premium. Sementara BHS sering dipersepsikan sebagai “kelas atas” dalam dunia persarungan, dengan lini produk yang menyasar segmen elite.
Menariknya, persepsi ini tidak selalu lahir dari kualitas semata, tetapi juga dari strategi branding. Iklan, asosiasi dengan tokoh agama ataupun artis kenamaan, hingga distribusi di pasar tertentu membentuk citra bahwa sarung tertentu “lebih berkelas” daripada yang lain. Kita, sebagai konsumen, sering kali tidak hanya membeli kain, tetapi juga membeli cerita dan citra di baliknya.
Fenomena tersebut mencerminkan apa yang disebut sebagai conspicuous consumption atau konsumsi untuk menunjukkan status. Sarung mahal mungkin tidak secara signifikan lebih “fungsional” dibandingkan sarung biasa, tetapi nilainya terletak pada makna sosial yang disematkan padanya. Kita mengenakan sarung tertentu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dilihat oleh orang lain.
Namun, di sisi lain, sarung juga menyimpan demokrasi budaya. Sarung tetap menjadi pakaian lintas kelas. Kita bisa menemukan sarung di pesantren, desa, hingga kota besar. Bahkan dalam diskusi komunitas, sarung disebut sebagai pakaian yang “bisa dipakai ke mana saja,” dari rumah hingga ruang publik, "resmi bisa santai bisa", tergantung bagaimana kita membawanya. Artinya, meskipun ada stratifikasi harga dan merek, sarung tetap memiliki sifat inklusif. Bahkan di tahun 1995, ada Grup Band yang pupuler di kalangan ABG-ABG medio 90-an, di awal kemunculannya setiap manggung maupun mengambil video klip selalu mengenakan sarung sebagai identitas bandnya.
Di sinilah letak paradoksnya. Sarung adalah simbol kesederhanaan, tetapi juga bisa menjadi simbol kemewahan. Sarung bisa merepresentasikan kesetaraan, tetapi juga mempertegas perbedaan kelas. Dan kita hidup di antara dua makna itu, disadari atau tidak, diakui atau tidak, banyak orang menggunakan sarung sebagai kebutuhan sekaligus sebagai pernyataan yang tanpa pernah benar-benar kita ucapkan!


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!