![]() |
| Peredaran uang masa lebaran [Foto: Reuters] |
RAMADAN dan Lebaran selalu menjadi momentum istimewa bagi bangsa kita. Di tengah ibadah dan tradisi saling memaafkan, ada pula denyut ekonomi yang berdetak kencang. Tahun 2026 ini tanda-tanda itu kembali nyata. Proyeksi Bank Indonesia menunjukkan bahwa jumlah uang tunai yang diedarkan di seluruh negeri untuk menyambut Ramadan dan Idulfitri mencapai sekitar Rp185,6 triliun, naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu. Besaran ini mencakup uang tunai yang tersedia di bank dan ATM serta kas umum yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa puncak Lebaran.
Sementara itu data terbaru dari Kementerian Perhubungan memperkirakan bahwa sekitar 143,9 juta orang akan melakukan mudik Lebaran 2026, hanya sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan separuh lebih penduduk Indonesia akan bergerak pulang ke kampung halamannya, membawa bukan hanya rindu, tetapi juga pengaruh ekonomi yang signifikan ke desa-desa tujuan.
Tradisi mudik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia memberikan dampak ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika kita pulang kampung, kita membawa sekaleng uang, THR yang telah ditunggu-tunggu, serta keinginan untuk berbagi kepada sanak saudara dan tetangga di kampung halaman. Ini bukan sekadar ritual sosial, tetapi juga sebuah suntikan likuiditas yang mengalir langsung ke ekonomi akar rumput. Ketika kita membeli kue, pakaian baru, bahan pokok, hingga kiriman untuk keluarga, desa-desa yang biasanya sepi aktivitas justru menjadi sibuk lagi. Pasar lokal kembali ramai, warung kecil mendapatkan pembeli, dan tukang ojek desa pun kembali aktif mengantar warga serta pemudik.
Perputaran uang di masa Ramadan dan Lebaran tahun ini dipastikan jauh melebihi persediaan tunai saja. Proyeksi Bank Mandiri memperkirakan total perputaran uang selama periode Ramadan dan Lebaran 2026 menembus lebih dari Rp185 triliun, tumbuh sekitar 2,6 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh pembayaran THR secara penuh dan melonjaknya mobilitas masyarakat di masa libur panjang.
Kondisi ini jelas menjadi berkah di banyak desa yang selama ini bergantung pada aliran uang dari perantau. Desa yang biasanya hidup dengan ekonomi subsisten kini menikmati gelombang permintaan terhadap barang dan jasa. Pengusaha kecil, tukang bakso, penjual sayur, hingga pedagang pakaian musiman mendadak memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan. Di samping itu, sebagian warga desa yang memiliki sanak di kota pun mendapat peran sebagai penyambung kebutuhan logistik dengan permintaan yang meningkat.
Namun, kita tidak boleh melihat fenomena ini secara sepihak sebagai anomali positif tanpa tantangan. Pertumbuhan transaksi digital yang juga melonjak selama periode Ramadan dan Lebaran menunjukkan bahwa ada perubahan perilaku ekonomi yang tidak sepenuhnya cash-oriented. Bank Indonesia mencatat volume transaksi digital pada Januari 2026 tumbuh hampir 40 persen secara tahunan, dengan transaksi QRIS terus meningkat signifikan. Ini menunjukkan bahwa walaupun uang tunai masih menjadi primadona di desa, penggunaan digital payment juga mulai merambah pasar desa dan kota sekaligus.
Gairah ekonomi yang muncul dari perantau ini seharusnya menjadi momentum bagi desa untuk memperkuat pola ekonomi lokalnya. Selama ini, desa seringkali sekadar menjadi tempat ‘tujuan’ aliran uang selama Lebaran, lalu kembali sepi begitu libur usai. Kini, ada kebutuhan untuk memikirkan bagaimana desa bisa menangkap momentum tersebut bukan hanya pada masa Lebaran, tetapi sepanjang tahun. Penguatan UMKM lokal, peningkatan akses pasar digital, serta perbaikan infrastruktur ekonomi desa menjadi isu yang tidak bisa ditunda.
Momentum Lebaran 2026 juga menjadi ujian bagi kemampuan kita menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Pemerintah melalui berbagai instansi terus memantau harga dan pasokan barang, agar ledakan permintaan tidak berujung pada lonjakan harga yang memberatkan masyarakat, termasuk mereka yang berada di desa. Permintaan agar harga tetap terjangkau dan tidak melonjak tajam selama Ramadan sengaja ditekankan untuk menjaga daya beli masyarakat agar seluruh lapisan dapat menikmati berkah Hari Raya tanpa tekanan biaya yang berlebihan.
Lebaran selalu mengingatkan kita pada naluri sosial dan ekonomi yang saling terkait. Kita yang pulang kampung tidak sekadar melakukan tradisi, tetapi juga membawa "oksigen" bagi ekonomi desa yang kadang stagnan. Aliran uang tunai, pembelian barang dan jasa, serta kiriman bagi keluarga di desa menjadi bagian dari siklus ekonomi yang jarang mendapatkan spotlight selain saat momen spesial ini. Tantangan ke depan adalah bagaimana kita mengubah ledakan ekonomi sesaat ini menjadi fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan bagi desa di seluruh penjuru negeri. Semoga!


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!