![]() |
| Soto Kletuk khas Blora [Foto: iStock] |
Sejarah soto kletuk tidak dapat dilepaskan dari tradisi kuliner masyarakat Blora yang sederhana dan dekat dengan bahan pangan lokal. Salah satu kisah paling terkenal datang dari Soto Kletuk Mbah Gowak. Kuliner ini dirintis oleh Parto Pasiman atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Gowak sekitar tahun 1957. Pada masa awal, ia berjualan secara berkeliling dengan cara dipikul dan mendatangi berbagai tempat keramaian, pasar malam, hingga hajatan warga.
Dari perjalanan itulah soto kletuk kemudian berkembang menjadi usaha kuliner yang diwariskan lintas generasi. Solikin, putra Mbah Gowak, melanjutkan usaha tersebut dan kemudian menetapkannya di Jalan Gunung Lawu, Blora. Tradisi berjualan yang dahulu dilakukan secara keliling akhirnya berubah menjadi warung tetap, tetapi cita rasa dan resep yang diwariskan tetap dipertahankan.
Lalu, dari mana nama “kletuk” berasal? Jawabannya justru ada pada sensasi ketika kita menyantapnya. Singkong terlebih dahulu diolah, dipotong kecil-kecil, dikeringkan, kemudian digoreng sampai renyah. Ketika dikunyah bersama kuah soto, teksturnya menghasilkan bunyi “tuk” atau “kletuk”. Dari suara sederhana itulah nama soto kletuk melekat dan menjadi identitas kuliner ini.
Menariknya, soto kletuk memperlihatkan bagaimana kreativitas masyarakat dapat lahir dari bahan yang sederhana. Singkong yang selama ini dikenal sebagai pangan sehari-hari justru menjadi elemen penting yang membedakan soto Blora dari berbagai jenis soto lainnya. Dan ketika kita menyantap semangkuk soto kletuk, sebenarnya kita sedang menikmati perpaduan rasa, tradisi, dan sejarah panjang masyarakat Blora.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!