Mereka Belum Merdeka!


ADA pemandangan yang selalu membuat hati saya berhenti sejenak ketika melintas di perempatan lampu merah Jalan Merdeka, Jombang. Di antara deru sepeda motor, mobil yang berhenti, suara klakson, dan lampu lalu lintas yang berganti warna, ada seorang ibu yang setiap hari berjuang mendapatkan sedikit belas kasihan dari orang-orang yang melintas. Tubuhnya tidak seperti kebanyakan orang. Ia bergerak dengan cara ngesot, perlahan, mendekati kendaraan yang berhenti. Tangannya terulur, berharap ada sekeping uang yang berpindah dari tangan pengendara ke telapak tangannya.

Entah sudah berapa lama ia menjalani kehidupan seperti itu. Setiap kali lampu merah menyala, ia kembali ke jalan. Ketika lampu berubah hijau, kendaraan kembali melaju dan ia pun menepi. Begitu seterusnya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tetapi nasibnya seolah tetap berada di tempat yang sama.

Saya sering bertanya dalam hati, bagaimana jika perempuan itu adalah ibu saya? Bagaimana jika ia adalah saudara saya? Bagaimana jika suatu hari orang yang kita cintai harus menjalani kehidupan seperti itu, menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada kemurahan hati orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat pemandangan sederhana di sebuah perempatan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ini bukan sekadar tentang seorang pengemis yang meminta uang. Ini tentang manusia yang sedang mencari ruang untuk bertahan hidup. Ini tentang seseorang yang mungkin tidak pernah memperoleh kesempatan yang sama seperti kita. Kesempatan untuk bekerja, mendapatkan pendidikan, memperoleh penghasilan yang layak, dan menjalani kehidupan dengan martabat.

Saya juga tidak tahu apakah ibu itu benar-benar sendirian menghadapi kehidupan. Bisa saja ada orang lain yang mengatur dan mengeksploitasinya. Bisa pula tidak. Saya tidak ingin menghakimi sesuatu yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang saya tahu, setiap kali melihatnya, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Hampir 64 tahun Indonesia merdeka. Bendera merah putih berkibar di halaman sekolah, kantor pemerintahan, rumah-rumah warga, dan sepanjang jalan. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan dengan penuh semangat. Kita mengenang para pahlawan yang gugur demi sebuah kata bernama kemerdekaan.

Namun, di tengah semua perayaan itu, masih ada manusia yang belum benar-benar merasakan arti kemerdekaan. Mereka belum merdeka dari kemiskinan. Belum merdeka dari keterbatasan. Belum merdeka dari ketidakberdayaan. Bahkan, mungkin belum merdeka untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin menjalani hidup.

Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti ketika setiap warga negara memiliki kesempatan untuk hidup layak, bekerja dengan bermartabat, memperoleh perlindungan, dan menatap masa depan tanpa harus memohon kepada orang lain.

Bukankah konstitusi telah mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara? Maka, setiap kali kita melewati lampu merah dan melihat tangan yang terulur, mungkin kita tidak hanya sedang melihat seorang pengemis. Kita sedang melihat cermin. Cermin yang memperlihatkan kepada kita bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya sampai kepada semua orang.

Barangkali Indonesia memang telah merdeka. Tetapi mereka? Mereka belum merdeka.

Posting Komentar

6 Komentar

  1. pemimpin negeri ini mungkin sudah jadi Ratu Cacing Anil, kerjanya lelet kayak jalannya cacing, ditambah santai sambil anil, ancur deh...

    BalasHapus
  2. Selamat Sore…
    Salam Kenal dari Balikpapan…
    berkenan tukaran link..? :)
    Terima KAsih....

    BalasHapus
  3. waktu kuliah dulu temanku ada yang bilang begini :
    "kita ga perlu memberi sesuatu pada pengemis, karena hal itu tidak mendidik, dan akan terus membuat mereka manja, tidak mau berusaha dan hanya bisa meminta"
    mungkin dia benar juga, mungkin juga tidak, ga tau deh...

    BalasHapus
  4. aku paling sebel sama pengemis yang pake atribut 'anak'. bawa anak-anaknya untuk mengemis agar lebih dikasihani.
    menurutku, lebih parah tuh... masa anak masih kecil sudah dididik jadi pengemis pula

    BalasHapus
  5. mereka belum merdeka. merdeka kan negaranya. di Amerika juga masih ada pengemis loh.

    BalasHapus
  6. Benar juga...dalam UUD ’45 yang seharusnya dilaksanakan dengan murni dan konsekwen, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara! Sayang negara kita terlalu banyak memelihara bahkan melahirkan pencoleng!

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!