Ad Code

Gara-Gara Menyebut "Desa Malang", Konten Kreator ini Dirujak Warganet Malang dan Jombang


BEBERAPA hari terakhir media sosial (Tiktok) diramaikan oleh unggahan video yang cukup mengundang perdebatan. Seorang perempuan muda yang mengaku sebagai warga Surabaya membuat konten saat berkunjung ke Malang Town Square atau yang biasa disebut Matos. Dalam videonya, ia menyebut Matos sebagai “mal terkecil di dunia” sambil membandingkannya dengan Pakuwon Mall di Surabaya yang menurutnya biasa ia datangi.

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai candaan biasa. Namun persoalannya muncul ketika ia juga menyebut Malang sebagai “Desa Malang”. Potongan ucapan itulah yang kemudian menyebar cepat di berbagai platform media sosial dan memicu reaksi warganet. Banyak warganet yang menilai bahwa kalimat tersebut terdengar sangat merendahkan.

Saya agak tertarik menyimak perdebatan tersebut. Bukan karena apa, kebetulan sekitar satu setengah dekade lalu, saya pernah tinggal dan beraktivitas di Kota Malang sekita empat tahunan. Saya tinggal di kawasan Jl. Tata Surya, kawasan yang berada persis di samping dan belakang Unisma, dan setahu saya banyak dihuni dosen UB. 

Pun dengan lokasi yang dibandingan (MATOS), karena hanya beberapa jengkal dari tempat belajar “mencangkul” saya, terkadang untuk makan siang, membeli buku atau bahkan menonton film di tempat itu. Sekali lagi bukan karena saya suka nongkrong dan nangkring di tempat seperti itu, tetapi lebih karena dekat saja dengan tempat belajar “mencangkul”. Toh habit dan habitat saya memang bukan tempat seperti itu. Sesuai asal-usul saya yang terlahir dan bertumbuh di lereng Gunung Anjsmoro bagian tenggara Kabupaten Jombang, gunung yang juga melingkupi sebagian Kabupaten Malang dan Kota Batu. Habit dan habitat saya tentu tak jauh dari alam bebas seperti hutan, kebun, sawah, sungai, puncak gunung dan tentu saja pantai, agar bisa melarungkan asam dari gunung untuk bertemu dengan garam di laut 😄😀😀.

Bagi saya, seperti halnya daerah-daearh lainnya, Kota Malang dan Kabupaten Malang punya karakter yang khas. Malang memang bukan kota metropolitan seperti Surabaya atau Jakarta, tetapi justru di situlah daya tariknya. Suasananya lebih santai, udaranya relatif sejuk, dan kehidupan kotanya berjalan dengan ritme yang berbeda.

Karena itu, ketika ada orang yang menyebut Malang sebagai “desa”, sebagian orang mungkin merasa tersinggung dan marah. Bukan karena Malang harus selalu dibandingkan dengan kota besar, tetapi karena setiap kota punya identitasnya sendiri dan tak layak dibandingkan. Malang dikenal sebagai kota pendidikan dengan banyak perguruan tinggi, sekaligus destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Itu makanya setiap tahun ribuan mahasiswa dari segala penjuru Indonesia banyak yang menyeru dan "menyerbu" Malang.

Hal yang sama juga berlaku untuk pusat perbelanjaannya. Matos memang tidak sebesar Pakuwon Mall Surabaya. Dan perbandingan itu sebenarnya tidak apple to apple. Pakuwon Mall dikenal sebagai salah satu kompleks perbelanjaan terbesar di Indonesia dengan konsep superblok yang terintegrasi. Sementara Matos lebih berfungsi sebagai pusat aktivitas anak muda, mahasiswa, dan keluarga di Malang.

Namun menariknya, meskipun tidak sebesar mal di kota metropolitan, Matos tetap ramai. Pada periode liburan tertentu, jumlah pengunjungnya bahkan bisa mencapai puluhan ribu orang dalam sehari. Artinya, pusat perbelanjaan ini tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi kota Malang.

Kembali ke soal perempuan penyebut "Desa Malang" tersebut, video perempuan itu menjadi viral dan mengakibatkan perdebatan di media sosial. Banyak warganet yang membalas, menguliti dan "merujak" perempunan itu. Terutama oleh warganet Malang, beragam konten diciptakan influencer dan terutama tiktoker dengan ragam latar belakang. Bahkan sejauh pantauan saya, dua dokter gigi ikutan "unjuk gigi" membalas dan membahas unggahan video perempuan itu. Ada juga yang sampai menguliti kalau perempuan di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) yang menyebutkan bahwa perempuan itu tercatat dengan nama Indah Khoirul Nesa sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Tak hanya itu, tak sedikit warganet Jombang yang meradang, tersebab daerahnya ikutan "kesenggol" karena dianggap asal dari perempuan itu. Beberapa warganet kemudian mencoba menelusuri identitas sang pembuat video. Ada yang menyebut ia bukan berasal dari Surabaya atau Jombang sebagaimana sempat dikira banyak warganet, melainkan dari wilayah Jember dan Denpasar. Di Surabaya sedang kuliah di Unesa dan Jombang hanya sekolah setingkat SLTA dan tinggal di salah satu pondok pesantren. Spekulasi seperti ini sebenarnya menunjukkan betapa cepatnya informasi dan asumsi menyebar di ruang digital.

Dalam kronologi berikutnya, akhirnya perempuan tersebut menyampaikan permintaan maaf melalui akun TikTok pribadinya. Dia mengatakan bahwa konten tersebut dibuat sebagai candaan dan tidak ada niat untuk merendahkan kota mana pun. Ia juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam membuat konten di masa depan.

Entahlah. Media sosial memang seringkali membuat ramai, meskipun belum tentu membuat tambah damai. Barangkali yang paling penting bukan soal siapa yang benar atau salah. Lebih menariknya justru bagaimana kita belajar memahami bahwa setiap kota memiliki cerita, kebanggaan, dan karakternya sendiri. Malang dengan segala dinamikanya tetap punya tempat tersendiri di hati banyak orang, termasuk saya yang pernah merasakan hidup di sana.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code