![]() |
| Karnaval Sound Horeg [Foto: ikoneksi.com] |
Sound horeg sebenarnya bukan musuh. Teknologi audio adalah bagian dari perkembangan kreativitas masyarakat. Musik, hajatan, karnaval, pengajian, dan pertunjukan budaya dapat menjadi ruang kebersamaan. MUI Jawa Timur pada 2025 bahkan menegaskan bahwa penggunaan sound horeg dengan intensitas wajar untuk kegiatan positif pada dasarnya diperbolehkan. Persoalannya muncul ketika suara berubah menjadi gangguan, membahayakan kesehatan, atau merusak milik orang lain.
Di sinilah kita perlu membedakan antara merayakan dan memaksakan. Merayakan berarti mengajak orang lain menikmati kegembiraan. Memaksakan berarti menganggap kegembiraan kita harus dirasakan semua orang, bahkan oleh mereka yang tidak pernah meminta.
Pemerintah Jawa Timur sebenarnya sudah memberi batas yang cukup jelas. Surat Edaran Bersama yang diterbitkan pada 6 Agustus 2025 menetapkan batas maksimal 120 dBA untuk sound system statis pada kegiatan tertentu, sementara penggunaan nonstatis seperti karnaval dibatasi maksimal 85 dBA. Aturan itu juga mengatur waktu, rute, kendaraan, perizinan, serta larangan menimbulkan kerusakan dan gangguan ketertiban.
Angka-angka itu penting. Namun, menurut kita, persoalannya tidak berhenti pada angka. Ada ukuran yang lebih halus, yakni empati.
Sebab rumah yang kita lewati bukan sekadar bangunan. Di dalamnya mungkin ada bayi yang sedang tidur, orang tua yang sedang beristirahat, seseorang yang sedang sakit, pekerja yang harus bangun dini hari, atau keluarga yang sekadar ingin menikmati sunyi. Mereka juga memiliki hak atas ruang hidup yang nyaman.
Kita boleh menyukai dentuman, menikmati musik, dan merasa bangga pada kreativitas para penggiat sound. Kita juga tidak perlu buru-buru menghakimi mereka yang berbeda selera. Yang perlu kita rawat adalah batas antara kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan berekspresi selalu berjalan bersama kewajiban menghormati ruang hidup sesama. Bahkan ketika sebuah acara memiliki izin, kesadaran sosial tetap diperlukan. Aturan adalah pagar, sedangkan empati adalah kompas. Tanpa keduanya, teknologi yang semestinya menghibur mudah berubah menjadi sumber konflik di tengah masyarakat yang semakin beragam.
Karena itu, sound horeg seharusnya tidak menjadi perlombaan tentang siapa paling keras. Kita tidak perlu membuktikan kegembiraan dengan membuat tanah bergetar dan tetangga menutup telinga. Kemeriahan yang baik justru mampu membuat orang tersenyum tanpa membuat orang lain menderita.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan, “Seberapa besar sound kita?” melainkan, “Seberapa besar kita mampu menghargai orang lain?”
Sebab yang horeg ternyata bukan cuma sound. Kadang ego kita juga ikut bergetar, ingin didengar, ingin terlihat, ingin dianggap paling meriah.
Dan barangkali kedewasaan sebuah masyarakat bukan ditandai oleh seberapa keras suaranya, melainkan oleh kesediaannya mengecilkan suara ketika tahu ada hati lain yang membutuhkan ketenangan.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!