Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial yang Paling Eksak?


KETIKA kita mendengar istilah ilmu eksak, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada matematika, fisika, atau kimia. Ilmu-ilmu tersebut identik dengan angka, rumus, pengukuran, dan hasil yang relatif dapat diuji ulang. Namun, bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang paling eksak?

Pernyataan itu tentu terdengar agak paradoks. Ekonomi disebut ilmu sosial karena objek kajiannya adalah manusia dan perilakunya. Manusia bukan benda mati. Ia bisa berubah pikiran, dipengaruhi lingkungan, memiliki preferensi, bahkan mengambil keputusan yang tidak selalu rasional. Karena itu, ekonomi tidak mungkin sepenuhnya eksak seperti matematika.

Namun, dibandingkan banyak cabang ilmu sosial lainnya, ekonomi memang memiliki kedekatan yang kuat dengan pendekatan kuantitatif. Kita mengenal berbagai rumus, model matematis, statistik, ekonometrika, hingga analisis data. Ketika ingin mengetahui pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, misalnya, kita tidak hanya mengatakan bahwa investasi “mungkin berpengaruh”. Kita dapat mengujinya dengan data, membangun model, kemudian melihat seberapa besar pengaruh tersebut secara statistik.

Menariknya, ekonomi sebenarnya hadir dalam keputusan-keputusan sederhana yang kita lakukan setiap hari. Ketika kita membawa uang terbatas ke minimarket lalu harus memilih antara membeli makanan, minuman, atau kebutuhan lainnya, kita sedang menghadapi kelangkaan dan pilihan. Kita tidak mungkin membeli semuanya, sehingga harus menentukan prioritas.

Ketika harga cabai atau beras naik, kita mungkin mengurangi jumlah pembelian atau mencari barang pengganti yang lebih murah. Ini merupakan contoh sederhana dari perubahan permintaan. Begitu pula ketika sebuah kedai memberikan diskon pada jam tertentu. Kita mungkin terdorong membeli karena harga menjadi lebih menarik. Tanpa sadar, kita telah berhadapan dengan konsep insentif.

Contoh lainnya dapat kita lihat ketika kita memilih antara membawa kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi umum. Kita akan mempertimbangkan biaya bensin, tarif transportasi, waktu perjalanan, kenyamanan, dan bahkan biaya parkir. Kita sedang melakukan perhitungan ekonomi, meskipun tidak selalu menuliskannya dalam bentuk rumus.

Di sinilah letak keunikan ilmu ekonomi. Kita dapat mengubah fenomena sosial yang rumit menjadi variabel yang dapat diukur. Pertumbuhan ekonomi dinyatakan dalam persentase. Inflasi dihitung berdasarkan perubahan harga. Pengangguran diukur melalui tingkat pengangguran terbuka. Kemiskinan dianalisis berdasarkan garis kemiskinan dan jumlah penduduk yang berada di bawahnya.

Tetapi angka tidak pernah menceritakan seluruh cerita. Angka kemiskinan, misalnya, dapat memberi tahu kita jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi belum tentu menggambarkan pengalaman hidup mereka. 

Karena itu, menyebut ekonomi sebagai ilmu sosial yang “paling eksak” sebaiknya dipahami secara proporsional. Kekuatan ekonomi bukan karena manusia dapat diperlakukan seperti benda di laboratorium, melainkan karena ekonomi memiliki perangkat kuantitatif yang kuat untuk membaca perilaku manusia.

Dengan demikian, ilmu ekonomi mempertemukan angka dan manusia. Kita membutuhkan statistik untuk memahami inflasi, tetapi juga membutuhkan empati untuk memahami dampaknya. Kita membutuhkan model ekonomi, tetapi tetap harus melihat kenyataan di sekitar kita. Barangkali karena itulah ilmu ekonomi menjadi menarik, di mana cukup eksak untuk dihitung, tetapi terlalu manusiawi untuk dipastikan.

Posting Komentar

0 Komentar