TERORIS!
Inilah kata yang mungkin akrab di telinga kita akhir-akhir ini. Setiap saat kita bisa mendengar kata yang membuat miris dan bergidik ini di berbagai media dan terutama di kalangan penjaga keamanan. Tetapi jangan kawatir, kata “teroris” yang saya pakai dalam judul tulisan ini tidak akan membuat Anda miris dan bergidik. Anda boleh curiga dan percaya kalau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang disebut sebagai teroris (saya sendiri tak terlalu percaya), yang kebetulan Ustadz Abu ini orang Jombang juga. Haji Sumarto? Anda mungkin tak mengenalnya.

Haji Sumarto adalah orang Jombang juga, berdomisili di Mojowarno, 17 Km arah tenggara Jombang Kota atau sekitar 8 km arah selatan dari kampung Kademangan, Mojoagung, kampung kelahiran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Haji Sumarto atau lebih dikenal dengan panggilan “Cak To Nuklir” ini sebenarnya layak menyandang gelar “The Real Terrorist”. Lho? Ya, dengan produknya “Bakso Nuklir” yang super lezat itu, dia telah meneror lidah para pelanggannya, setidaknya lidah saya.

Meskipun lokasinya jauh dari kawasan Jombang Kota, Bakso Nuklir tak kalah tenar dengan Bakso Malang (di Jombang ada Bakso Bakar Malang dan Bakso Kota Cak Man Malang) ataupun Bakso Solo. Bakso Nuklir sangat terkenal dan cukup legendaris (setidaknya saya mengenalnya dan sering mencicipinya sejak saya kanak-kanak). Dulu sebelum tahun 1990-an, saya sering mendengar iklan Bakso Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Jombang. Disebut Bakso Nuklir sebab baksonya memang ukurannya jumbo dan rasanya tak sekadar “nendang” tetapi “meledak” dahsyat.

Lokasi atau “markas” Bakso Nuklir ini sangat strategis. Meskipun tidak berada di jalan utama atau jalan nasional, hanya jalan alternatif, tetapi jalan ini sangat ramai terutama ketika liburan. “Gerai” Bakso Nuklir persis berada di tepi Jalan Raya Mojowarno yang menghubungkan Surabaya menuju Malang atau Kediri dan kota-kota di selatan Kediri. Berada tak jauh dari Gereja Tua dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno yang legendaris itu.

Saat ini Bakso Nuklir sepertinya telah mengalami “evolusi” bentuk dan bahan baksonya. Dulu tahun 1990-an, seingat saya bakso yang “dihadirkan” oleh Cak To Nuklir ukurannya jumbo terbuat dari adonan sedikit tepung, daging sapi, dan bumbu-bumbu plus di dalamnya ada telur burung puyuh. Hampir satu mangkok itu berisi satu bakso ukuran jumbo plus beberapa bakso kecil-kecil yang tak kalah dahsyat “ledakannya”. Saat ini bakso utama yang dihidangkan agak kecil dan tanpa isi telur.

Namun demikian, setiap penikmat bakso ini sepertinya tetap menyebut bakso ini dengan “Bakso Nuklir”, dan yang jelas rasa dari Bakso Nuklir ini tidak lantas latah ikut-ikutan “berevolusi”. Rasanya tetap meledak dahsyat seperti sebelumnya. Saya kurang paham dengan “rumus” yang dipakai Cak To Nuklir sehingga bisa menghasilkan bakso dengan rasa yang sedahsyat itu. Tertarik? Alangkah baiknya kalau Anda mencoba sendiri sambil “mencuri-curi” rumusnya Cak To Nuklir.