Mbah Sarep diceritakan sebagai seorang pengembara renta yang singgah dalam perjalanannya. Dengan tubuh kurus, pakaian lusuh, dan perawakan yang jauh dari kesan terpandang, kehadirannya kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian warga sekitar. Namun di balik kesederhanaan dan penampilan yang tampak kumuh itu, tersimpan niat besar untuk membuka pemukiman baru. Sebagai tanda pilihannya atas suatu lokasi, Mbah Sarep menancapkan tongkat kayu ke tanah yang dianggapnya layak dihuni.
Lokasi yang ditandai tersebut justru memunculkan keraguan. Sebagian orang yang mengetahui niat Mbah Sarep tidak memercayai pilihannya dan memandang rendah sosoknya. Mereka menganggap lelaki tua itu tidak lebih dari pengembara biasa tanpa pengetahuan maupun wibawa. Pandangan meremehkan ini lambat laun melukai perasaan Mbah Sarep. Merasa tidak dihormati, ia memutuskan meninggalkan tempat itu. Sebelum beranjak, tongkat yang sebelumnya ditancapkan dicabut kembali dari tanah.
Peristiwa itu menjadi titik balik yang kemudian dikenang turun-temurun. Tak lama setelah tongkat dicabut, lubang bekas tancapannya mengeluarkan semburan air yang terus mengalir tanpa henti. Air tersebut muncul dari dalam tanah, membentuk cekungan dan menjadi sumber air alami yang dianggap tidak biasa. Kejadian ini mengundang rasa takjub sekaligus penyesalan dari warga yang sebelumnya memandang remeh Mbah Sarep.
Dalam kisah yang diwariskan secara lisan, Mbah Sarep sempat meninggalkan pesan tentang pentingnya menghormati orang yang lebih tua. Pesan itu diyakini sebagai pengingat moral bagi warga agar tidak menilai seseorang semata dari penampilan luar. Sejak saat itu, semburan air tersebut dikenal dengan sebutan mburdul, sebuah istilah lokal yang merujuk pada air yang menyembur keluar dari tanah. Dari kata inilah, secara perlahan nama Brudu melekat dan akhirnya digunakan untuk menyebut desa yang berkembang di sekitarnya.
Lokasi semburan air itu berada di sebelah barat Masjid At-Taqwa, tidak jauh dari kantor desa saat ini. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, kawasan tersebut semakin padat. Pemukiman warga tumbuh, disusul pembangunan sekolah dan pondok pesantren. Cekungan bekas semburan air pun perlahan tertutup, menyatu dengan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat.
Beberapa warga masih merasakan jejak fisik dari kisah lama itu. Pada sekitar satu dekade lalu, saat sebuah rumah dibangun di atas tanah bekas semburan, ditemukan cekungan yang lebih dalam dan lembap dibandingkan tanah di sekitarnya. Dibutuhkan banyak tanah dan batu untuk meratakannya. Kini, di atas lahan tersebut berdiri rumah permanen, sementara kisah Mbah Sarep tetap hidup dalam ingatan kolektif warga Brudu sebagai asal-usul desa dan pelajaran tentang adab serta penghormatan.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!