Nama Kali Gunting dipercaya berasal dari bentuk alirannya yang terbelah dan tampak seperti dua bilah gunting yang terbuka. Bentuk unik itu, menurut cerita rakyat setempat, bukan terjadi begitu saja, melainkan berkaitan dengan kisah asmara lintas kerajaan pada masa silam. Alkisah, seorang pemuda bangsawan dari Kerajaan Pajajaran jatuh cinta pada putri Kerajaan Majapahit. Cinta itu tak mudah terwujud karena sang putri mengajukan syarat yang terkesan sederhana, tetapi ternyata mustahil dilakukan karena sang pemuda yang berambut panjang harus memotong rambutnya.
Berbagai upaya dilakukan, namun rambut tersebut tidak bisa terpangkas oleh alat apa pun. Hingga akhirnya, seorang perempuan tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo Ayu datang membawa gunting miliknya. Dengan alat sederhana itu, rambut sang pemuda akhirnya terpotong. Peristiwa tersebut dipercaya menjadi awal dari kejadian besar berikutnya. Langit menjadi gelap, hujan turun tanpa henti, dan petir menyambar selama berhari-hari. Air hujan mengikis tanah, membentuk cekungan besar yang kemudian dialiri air dari dataran tinggi Pegunungan Anjasmoro. Aliran itu terbelah dua, menyerupai bentuk gunting raksasa, dan sejak saat itulah masyarakat menyebutnya Kali Gunting.
Legenda ini terus hidup dalam ingatan kolektif warga Mojotrisno. Meski tak tercatat dalam naskah sejarah resmi, kisah tersebut menjadi bagian penting dari identitas lokal. Hingga kini, Kali Gunting tetap menjadi penanda geografis sekaligus simbol hubungan manusia dengan alam dan kepercayaan masa lalu.
Dalam perkembangannya, Mojotrisno tidak lagi hanya dikenal karena ceritanya. Desa ini mengalami pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang cukup pesat. Data terbaru menunjukkan jumlah penduduk Mojotrisno telah melampaui sepuluh ribu jiwa, dengan mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perdagangan kecil, dan usaha mikro. Sungai Gunting sendiri masih berperan penting sebagai saluran irigasi dan pengendali air hujan.
Namun, tantangan juga muncul. Dalam beberapa tahun terakhir, debit air sungai meningkat saat musim hujan, menyebabkan erosi dan kerusakan tanggul di beberapa titik. Hal ini mendorong masyarakat dan pemerintah desa untuk melakukan kerja bakti rutin membersihkan sungai dan memperkuat bantaran. Upaya tersebut menjadi bukti bahwa legenda lama kini bertemu dengan kesadaran baru untuk menjaga sungai. Kali Gunting pun terus mengalir, tidak saja membawa air, tetapi juga cerita dan jejak waktu.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!