| Pemandangan Pegunungan Anjasmoro [Foto: Dok. Pribadi. 25 Desember 2028] |
1. Wisata Lereng yang Ramah dan Bersahabat
Meski puncaknya tertutup untuk pendakian, lereng Pegunungan Anjasmoro justru terbuka bagi wisatawan. Kawasan Wonosalam dikenal sebagai sentra agrowisata, terutama durian Bido yang menjadi kebanggaan lokal. Kita bisa menikmati kebun durian, udara sejuk pegunungan, serta lanskap hijau yang menenangkan. Selain itu, terdapat destinasi alam seperti Watu Jengger dan Petung Sewu yang menawarkan panorama hutan dan air terjun. Fasilitas wisata pun cukup memadai, mulai dari area parkir, warung makan, hingga tempat istirahat.
2. Kawasan Konservasi dengan Hutan yang Masih Utuh
Salah satu kekuatan utama Anjasmoro adalah statusnya sebagai kawasan konservasi. Sejak 1992, wilayah ini masuk dalam Tahura Raden Soerjo. Vegetasinya mencakup hutan dipterokarp, hutan montane, hingga hutan gunung yang menjadi habitat flora dan fauna dilindungi. Kepadatan pepohonan serta minimnya aktivitas manusia membuat Anjasmoro menjadi salah satu benteng terakhir ekosistem alami di Jawa Timur.
3. Gunung yang Tidak Dibuka untuk Pendakian Umum
Berbeda dengan gunung lain, Anjasmoro memang tidak dirancang untuk pendakian massal. Jalurnya ekstrem, licin, tertutup semak, dan minim penanda. Topografinya curam dan berbahaya, sehingga risiko kecelakaan sangat tinggi. Penutupan jalur pendakian bukan tanpa alasan: menjaga keselamatan manusia sekaligus melindungi keseimbangan alam. Dalam konteks ini, larangan justru menjadi bentuk perlindungan.
4. Memiliki Sekitar 40 Puncak yang Jarang Dikenal
Tak banyak yang menyadari bahwa Pegunungan Anjasmoro memiliki sekitar 40 puncak. Puluhan puncak tersebut tersebar di beberapa wilayah, dengan ketinggian yang beragam. Ada Top Anjasmoro atau Gunung Biru di Kota Batu, Puncak Kukusan di Mojokerto, serta Puncak Cemoro Sewu di Wonosalam, Jombang. Sebagian besar puncak ini belum banyak dijamah manusia, menjadikan Anjasmoro sebagai kawasan pegunungan yang masih menyimpan misteri geografis.
5. Gugusan Pegunungan yang Terlihat Menyatu
Jika dipandang dari kejauhan, Anjasmoro tampak sebagai satu gunung besar. Padahal, kawasan ini merupakan gugusan pegunungan yang dipisahkan jurang-jurang curam. Anjasmoro berada satu klaster dengan Gunung Argowayang dan berdekatan dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Banyak bukit dan punggungan yang tertutup kabut, menciptakan ilusi visual yang memukau sekaligus menipu mata.
6. Jalur Liar yang Hanya Hidup dalam Cerita
Meski ditutup, nama-nama jalur lama dan klasik seperti Cemoro Sewu di Segunung, Wonosalam atau jalur Cangar, Pacet masih sering muncul dalam kisah para penjelajah. Jalur-jalur ini sepenuhnya berupa alam liar, dikelilingi hutan basah, pohon besar, dan medan curam. Keindahannya sering digambarkan epik, namun risikonya jauh lebih besar. Karena itu, kita sebaiknya cukup mengenalnya sebagai cerita, bukan tujuan.
7. Nama dengan Makna Filosofis yang Dalam
Nama Anjasmoro dipercaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu kata anjas yang berarti benteng dan asmara yang bermakna cinta. Tafsirnya beragam, mulai dari benteng cinta hingga tempat bertahannya suka dan duka. Meski asal-usulnya belum sepenuhnya pasti, nama ini memberi kesan bahwa Anjasmoro bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang simbolik yang menyimpan nilai sejarah dan emosi manusia.
Pegunungan Anjasmoro seakan mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu hadir untuk ditaklukkan, difoto, lalu ditinggalkan. Ada bentang bumi yang justru menemukan martabatnya dalam kesunyian, dalam jarak, dan dalam sikap hormat manusia yang memilih untuk menjaga. Anjasmoro berdiri sebagai gunung yang tidak meminta kita mendaki puncaknya, tetapi mengajak kita menuruni ego dan belajar memahami bahwa keindahan sejati sering kali lahir dari batas dan pembatasan, bukan pelanggaran.

0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!