Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 70 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, pertumbuhan ekonomi kita sangat ditopang oleh belanja masyarakat. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, konsumsi rumah tangga biasanya meningkat signifikan, terutama pada kelompok makanan dan minuman, pakaian, serta transportasi. Pada periode ini, inflasi juga kerap terdorong oleh kenaikan harga bahan pangan dan tingginya permintaan berbagai barang dan jasa.
Kita memahami bahwa peningkatan konsumsi pada momen hari besar keagamaan memiliki dimensi kultural. Ada tradisi menyiapkan hidangan istimewa, membeli pakaian baru, hingga mempercantik rumah. Namun persoalannya muncul ketika kebiasaan itu berubah menjadi standar sosial yang tidak lagi proporsional. Kita merasa perlu mengikuti arus agar tidak dianggap kurang mampu atau kurang peduli pada tradisi. Di sinilah puasa semestinya berfungsi sebagai rem moral atas dorongan konsumtif tersebut.
Laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di kisaran 49 persen pada survei nasional terakhir, meskipun inklusi keuangan sudah melampaui 80 persen. Artinya, banyak dari kita yang telah memiliki akses terhadap layanan keuangan seperti kredit ataupun pinjaman online (pinjol) dan paylater, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko pengelolaan utang. Pada Ramadan, berbagai platform menawarkan kemudahan cicilan tanpa kartu kredit dan promo belanja yang menggoda. Tanpa perencanaan yang matang, kita bisa masuk ke dalam jebakan utang konsumtif hanya demi memenuhi euforia sesaat.
Puasa mengajarkan kita merasakan lapar yang mungkin setiap hari dirasakan sebagian saudara kita. Data kemiskinan yang dirilis Badan Pusat Statistik mencatat bahwa masih ada puluhan juta penduduk yang hidup di bawah atau sedikit di atas garis kemiskinan. Ketika kita menyadari fakta ini, gaya hidup boros menjadi terasa kontras. Apakah pantas kita membuang makanan berlebih saat berbuka sementara di tempat lain ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Selain dampak finansial, gaya hidup boros juga membawa konsekuensi ekologis. Konsumsi berlebihan berarti peningkatan produksi, distribusi, dan limbah. Kita melihat lonjakan sampah makanan dan kemasan setiap Ramadan. Menurut The United Nations Environment Programme (UNEP), per 2025 Indonesia merupakan penghasil sampah makanan nomor 5 di dunia dan seringkali menduduki peringkat 2 di tahun-tahun sebelumnya dengan sampah makanan per orang per tahun lebih dari 50 kg. Sangat ironi bukua? Padahal, ajaran puasa menekankan kesederhanaan dan kecukupan. Jika kita mampu mengurangi pembelian impulsif dan memasak secukupnya, kita tidak hanya menjaga dompet, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dalam konteks makroekonomi, konsumsi memang penting untuk menjaga pertumbuhan. Namun pertumbuhan yang sehat tidak identik dengan pemborosan. Kita dapat mengarahkan belanja pada produk lokal dan usaha kecil agar dampaknya lebih merata. Kita juga bisa memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Koreksi gaya hidup boros bukan berarti mematikan roda ekonomi, melainkan menggesernya menuju pola yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Puasa memberi kita pengalaman konkret tentang batas. Kita belajar bahwa tubuh mampu bertahan tanpa asupan selama belasan jam. Kesadaran ini seharusnya meluas pada pola belanja kita. Kita tidak selalu membutuhkan barang baru setiap kali tren berubah. Kita tidak harus mengikuti setiap promo yang lewat di layar ponsel. Dengan menunda pembelian yang tidak mendesak, kita melatih disiplin yang sama seperti saat menahan haus di siang hari.
Kita juga perlu membangun budaya diskusi terbuka dalam keluarga tentang perencanaan keuangan Ramadan. Menyusun anggaran khusus, menetapkan prioritas pengeluaran, dan menyisihkan dana untuk zakat serta sedekah dapat menjadi langkah konkret. Ketika kita mengalokasikan sebagian harta untuk berbagi, orientasi konsumsi bergeser dari kepuasan diri menuju kepedulian sosial. Di sinilah puasa menemukan makna transformasinya.
Lebih jauh, koreksi atas gaya hidup boros adalah investasi jangka panjang. Dengan kebiasaan menabung dan menghindari utang konsumtif, kita memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat rumah tangga. Dalam situasi ketidakpastian global, seperti fluktuasi harga pangan dan energi, rumah tangga yang memiliki cadangan keuangan lebih siap menghadapi guncangan. Puasa melatih kesabaran, dan kesabaran adalah fondasi perencanaan yang rasional.
Dengan demikian, Ramadan adalah momentum evaluasi diri. Ketika kita mampu mengendalikan nafsu makan, seharusnya kita juga mampu mengendalikan nafsu belanja. Dari meja berbuka yang sederhana, dari lemari yang tidak lagi dipenuhi barang tak terpakai, kita sedang menata ulang hubungan kita dengan harta. Puasa menjadi koreksi yang lembut namun tegas atas gaya hidup boros, agar setelah Ramadan usai, kita tetap membawa semangat kesederhanaan dalam setiap keputusan ekonomi kita.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!