Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan bahwa pada 2024 tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai lebih dari 78 persen populasi atau sekitar 215 juta pengguna. Mayoritas pengguna berada pada rentang usia 13 hingga 34 tahun. Artinya, ruang digital kita didominasi oleh anak muda yang aktif memproduksi dan mengonsumsi konten. Ramadan kemudian menjadi momentum kultural yang sangat kuat untuk diekspresikan di ruang tersebut. Kita tidak lagi hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang performativitas kesalehan di hadapan publik digital.
Kita perlu membaca gejala ini secara jernih. Di satu sisi, konten Ramadan membuka peluang dakwah yang lebih luas dan inklusif. Ceramah singkat berdurasi satu menit dapat menjangkau jutaan penonton dalam hitungan jam. Laporan We Are Social pada 2024 mencatat bahwa rata rata waktu penggunaan internet di Indonesia mencapai lebih dari tujuh jam per hari. Sebagian besar waktu itu dihabiskan untuk media sosial dan video daring. Jika sebagian kecil saja dari waktu tersebut diisi dengan pesan kebaikan, potensi dampaknya tentu besar. Kita menyaksikan munculnya kreator muda yang mengemas pesan spiritual dengan bahasa ringan dan visual menarik sehingga lebih mudah diterima generasi sebaya.
Namun di sisi lain, kita juga berhadapan dengan logika algoritma yang mengutamakan atensi dan interaksi. Konten yang paling emosional, kontroversial, atau sensasional sering kali lebih cepat viral dibandingkan pesan yang teduh dan reflektif. Dalam konteks ini, Ramadan berisiko direduksi menjadi komoditas konten. Kita melihat tantangan viral, lomba dekorasi berbuka, hingga perang diskon bertema religi yang membanjiri linimasa. Identitas digital anak muda perlahan dibentuk oleh metrik jumlah suka, tayangan, dan pengikut, bukan semata oleh kedalaman makna.
Fenomena ini juga berkaitan dengan aspek ekonomi digital. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia terus tumbuh dengan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto, termasuk dari sektor perdagangan daring dan jasa kreatif. Ramadan menjadi salah satu puncak aktivitas transaksi. Kita menyaksikan peningkatan penjualan fesyen muslim, makanan siap saji, hingga paket parsel lebaran melalui platform digital. Anak muda bukan hanya konsumen, tetapi juga produsen dan afiliator yang memonetisasi momentum tersebut. Identitas religius dan identitas kewirausahaan sering kali melebur dalam satu unggahan promosi.
Kita tentu tidak bisa memisahkan ruang digital dari kebijakan publik. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia berulang kali menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dan menghindari hoaks, terutama pada momen sensitif seperti Ramadan. Setiap tahun, kita masih menemukan konten provokatif, potongan ceramah tanpa konteks, hingga ajakan yang memecah belah. Anak muda yang aktif di media sosial berada di garis depan arus informasi ini. Tanpa literasi yang memadai, identitas digital kita bisa terbentuk oleh disinformasi dan polarisasi.
Karena itu, pertanyaan mendasarnya bukan apakah anak muda harus aktif membuat konten Ramadan, melainkan bagaimana kita memaknai aktivitas tersebut. Apakah kita sekadar mengejar tren dan validasi sosial, atau sungguh ingin menghadirkan nilai yang otentik. Identitas digital seharusnya tidak berhenti pada citra yang dikurasi, tetapi menjadi perpanjangan dari karakter dan integritas kita di dunia nyata. Ramadan memberi ruang refleksi yang dalam untuk menilai kembali motif dan orientasi kita dalam bermedia.
Bagaimanapun juga, ruang digital adalah ruang publik baru. Apa yang kita unggah membentuk persepsi kolektif tentang Islam, tentang generasi muda, dan tentang wajah Indonesia. Ketika kita memilih untuk menyebarkan konten empati, toleransi, dan kepedulian sosial, kita ikut membangun ekosistem digital yang sehat. Sebaliknya, ketika kita larut dalam perundungan atau pamer berlebihan, kita memperkuat budaya konsumtif dan kompetitif yang sering kali bertentangan dengan semangat puasa.
Dengan demikian, poin utamanya adalah bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan dorongan untuk selalu tampil dan diakui. Di tengah derasnya arus konten, apakah identitas digital kita mencerminkan kedewasaan spiritual atau sekadar strategi personal branding. Anak muda memiliki energi, kreativitas, dan jangkauan yang luar biasa. Jika potensi itu diarahkan pada narasi yang membangun, kita bukan hanya menjadi penonton algoritma, melainkan penentu arah percakapan publik. Dari sinilah identitas digital yang matang dan bermakna dapat tumbuh, tidak hanya selama Ramadan, tetapi sepanjang tahun kehidupan kita.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!