![]() |
| Buka puasa bersama [Foto: fimela.com] |
Tradisi bukber sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai luhur ajaran Islam tentang kebersamaan dan ikatan sosial. Ketika kita duduk bersama, berbagi makanan dan cerita, ada rasa saling menghargai yang terjalin. Data dari survei Snapcart pada 2025 lalu menunjukkan bahwa sekitar 57 persen masyarakat Indonesia merasa bahwa bukber adalah bagian penting dari Ramadan karena menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan melepas rindu dengan orang-orang terkasih. Sebanyak 56 persen responden menilai bukber sebagai kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, sementara 18 persen melihatnya sebagai momen untuk bertemu kembali dengan keluarga yang lama tak bersua.
Namun, di tengah nilai positif itu tumbuh juga fenomena yang tak kalah penting dibahas, yaitu munculnya tekanan sosial yang terkadang mengambil alih esensi spiritual dari tradisi ini. Dalam survei perilaku konsumsi Ramadan 2025 yang dilakukan oleh GoodStats, tercatat bahwa 66 persen responden merencanakan alokasi anggaran khusus untuk bukber. Artinya bagi banyak orang, bukber bukan sekadar pertemuan rohani, tetapi juga sebuah agenda konsumsi yang menarik perhatian signifikan dalam anggaran bulanan masyarakat.
Tekanan untuk mengadakan bukber di tempat yang representatif, lengkap dengan hidangan penuh variasi dan suasana fotoable sering kali mendorong kita melakukan belanja lebih dari yang seharusnya. Ketika bukber berubah menjadi ajang pamer gaya hidup atau pencitraan sosial, nilai kebersamaan bisa tergerus oleh gengsi semata. Banyak cerita di lapangan tentang undangan bukber yang menuntut peserta membawa hadiah atau berkontribusi pada menu yang tak murah, sehingga bagi sebagian orang yang ekonominya lebih sederhana hal ini justru menjadi beban.
Fenomena ini selaras dengan data Mandiri Spending Index yang menunjukkan pola konsumsi masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 yang cenderung sensitif dan selektif, di mana masyarakat lebih fokus pada kebutuhan esensial seperti bahan pokok dan transportasi daripada pengeluaran yang sifatnya sekunder. Di sinilah pertanyaan etis perlu kita ajukan, apakah tradisi bukber yang dimaksudkan sebagai sarana berkumpul tetap relevan ketika lebih banyak diarahkan pada tontonan sosial?
Realitas ini bukan semata persoalan konsumsi. Ada sisi positif yang tak boleh kita abaikan. Di sejumlah masjid besar seperti Masjid Istiqlal Jakarta, gelaran bukber massal berhasil menjadi panggung solidaritas sejati, di mana lebih dari 4.500 porsi makanan dibagikan setiap hari saat Ramadan kepada jamaah, termasuk pekerja harian dan orang yang sedang dalam perjalanan, dengan jumlah pengunjung mencapai 10.000 orang pada hari tertentu. Ini menunjukkan bahwa semangat bukber yang asli masih hidup dan berkembang.
Dua hal tampak berjalan berdampingan, dimana satu sisi bukber sebagai wujud silaturahmi yang memperkuat jaringan sosial dan rasa saling peduli, dan sisi lain sebagai ekspresi konsumsi di era modern yang sering kali dikombinasikan dengan gengsi sosial. Kita perlu berhati-hati agar tidak membiarkan estetika semata mengambil alih makna kebersamaan yang seharusnya menjadi inti dari tradisi ini.
Salah satu cara untuk menjaga agar bukber tetap relevan adalah dengan kembali menekankan prinsip sederhana namun bermakna. Ketika kita mengundang orang untuk berbuka bersama, pertimbangkan kebutuhan sesama di luar lingkaran pertemanan kita. Adakah yang jauh dari keluarga dan kesepian? Adakah tetangga atau pekerja yang butuh teman untuk berbuka? Menjadikan bukber sebagai wadah untuk memberi kepada mereka yang kurang beruntung justru memperluas arti silaturahmi itu sendiri. Bahkan dengan cara yang sederhana pun, nilai kebersamaan lebih terasa daripada hidangan dengan menu mewah yang memaksa kita berkorban di luar kemampuan.
Dalam masyarakat yang semakin digital dan terkoneksi, persaingan sosial sering kali muncul melalui hal-hal yang tampak sepele seperti foto makanan dan latar tempat eksklusif saat bukber. Padahal, di balik itu semua, esensi Ramadan adalah tentang perbaikan diri dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Dengan menempatkan kembali bukber pada konteksnya yang spiritual dan sosial, kita dapat memastikan tradisi ini tetap menjadi jembatan yang mempersatukan, bukan sekadar ajang memperlihatkan capaian materi.
Oleh karena itu, kita perlu merenungkan bahwa nilai sejati dari tradisi buka bersama bukan terletak pada seberapa mewah hidangannya atau seberapa Instagrammable tempatnya, melainkan pada kebersamaan, rasa syukur, dan saling mendukung di antara kita sebagai sesama manusia. Dengan demikian semangat Ramadan tetap hidup sepanjang tahun, bukan hanya sekadar pada momen buka puasa bersama itu sendiri.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!