Ad Code

Ramadan, Inflasi, dan Ujian Stabilitas Moneter


SETIAP kali Ramadan mendekat, kita hampir selalu dihadapkan pada pertanyaan yang sama tentang harga pangan dan daya beli. Ada kegembiraan spiritual yang menyelimuti ruang publik, tetapi ada pula kecemasan ekonomi yang pelan namun nyata. Pasar menjadi lebih ramai, permintaan meningkat, dan ekspektasi harga ikut terangkat. Dalam situasi seperti ini, stabilitas moneter benar-benar diuji, bukan hanya oleh angka statistik, tetapi oleh pengalaman sehari hari kita di dapur dan pasar tradisional.

Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi Indonesia sepanjang tahun 2024 dan 2025 tercatat lebih dari 2-3 persen secara tahunan. Angka ini memang masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Namun jika kita menelisik lebih dalam, kelompok makanan minuman dan tembakau sering kali menjadi penyumbang inflasi yang paling dominan menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Pada beberapa bulan menjelang Ramadan tahun sebelumnya, inflasi komponen bergejolak yang banyak dipengaruhi harga pangan segar sempat berada di atas 3 persen secara tahunan. Artinya tekanan itu nyata dan langsung terasa.

Kita memahami bahwa secara teori, kenaikan permintaan musiman akan mendorong harga naik jika pasokan tidak bertambah secara proporsional. Fenomena ini berulang setiap tahun. Komoditas seperti beras, cabai, bawang merah, gula, dan daging ayam ras hampir selalu menjadi sorotan. Dalam rilis inflasi bulanan, Badan Pusat Statistik kerap mencatat cabai merah dan beras sebagai penyumbang inflasi terbesar pada periode tertentu. Bagi kita, angka itu bukan sekadar statistik, tetapi merupakan gambaran pengeluaran tambahan yang harus diatur ulang dalam anggaran rumah tangga.

Di sisi lain, Bank Indonesia memegang mandat menjaga stabilitas nilai rupiah dan inflasi dalam kisaran target. Untuk tahun 2024 dan 2025, sasaran inflasi ditetapkan pada kisaran 2,5 persen dengan deviasi 1 persen. Kebijakan suku bunga acuan yang pada 2024 sempat berada di level 6,25 persen mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter dalam merespons tekanan eksternal dan domestik. Kita dapat melihat bahwa pengendalian inflasi bukan hanya soal mengatur uang beredar, tetapi juga soal mengelola ekspektasi publik.

Namun kita juga harus memahami bahwa instrumen moneter memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan inflasi pangan yang bersumber dari gangguan pasokan. Cuaca ekstrem, distribusi yang terhambat, atau lonjakan permintaan musiman tidak bisa sepenuhnya diselesaikan hanya dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga. Di titik inilah koordinasi menjadi kunci. Kita membutuhkan sinergi antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor riil.

Peran Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog menjadi krusial dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pokok. Operasi pasar, stabilisasi harga beras, serta penguatan cadangan pangan pemerintah adalah langkah konkret yang bisa meredam gejolak. Ketika cadangan beras pemerintah ditingkatkan hingga jutaan ton, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa negara hadir untuk menenangkan pasar. Bagi kita sebagai konsumen, kepastian pasokan sering kali lebih menenangkan daripada sekadar janji pengendalian inflasi.

Ramadan juga memperlihatkan sisi psikologis ekonomi. Kita cenderung membeli lebih banyak, memasak lebih beragam, dan menyiapkan hidangan istimewa. Ada dorongan sosial dan kultural yang membuat konsumsi meningkat. Jika tidak disertai pengendalian diri, lonjakan permintaan ini justru memperkuat tekanan harga. Dalam konteks ini, stabilitas moneter tidak hanya bergantung pada kebijakan negara, tetapi juga pada perilaku kolektif kita.

Kita perlu menyadari juga bahwa setiap keputusan belanja adalah bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih besar. Ketika kita menimbun karena takut kehabisan, kita tanpa sadar menciptakan kelangkaan semu. Ketika kita membeli secara wajar dan sesuai kebutuhan, kita membantu menjaga keseimbangan pasar. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang pola konsumsi, bukan sekadar menambah daftar belanja.

Oleh karena itu, harapan kita setiap Ramadan tidak lagi identik dengan kecemasan harga. Stabilitas bukan hanya soal tercapainya target inflasi, melainkan tentang rasa aman yang kita rasakan saat berbelanja kebutuhan pokok. Jika koordinasi kebijakan terjaga dan perilaku konsumsi kita semakin bijak, Ramadan dapat menjadi ruang pembelajaran kolektif. Kita belajar bahwa disiplin spiritual dapat berjalan seiring dengan disiplin ekonomi. Dan dari situlah stabilitas moneter memperoleh makna yang lebih dalam, bukan sekadar angka, melainkan ketenangan yang kita rasakan bersama.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code