Ad Code

Produktivitas Kerja di Tengah Ritme Puasa Ramadan

Kerja saat Ramadan [Ilustrasi: canva.com]

SETIAP Ramadan kita memasuki ritme hidup yang berbeda. Jam tidur bergeser, pola makan berubah, dan intensitas ibadah meningkat. Namun di saat yang sama, roda ekonomi tetap berputar. Kantor, pasar, sekolah, pabrik, dan sampai ladang pertanian tetap menuntut kinerja. Di titik inilah muncul pertanyaan klasik yang terus berulang, apakah puasa menurunkan produktivitas kerja kita, atau justru memperkuat disiplin dan fokus?

Data makro menunjukkan bahwa kekhawatiran penurunan produktivitas sering kali dibesar-besarkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir berada di kisaran 5 persen. Aktivitas ekonomi pada kuartal kedua, setidaknya dalam 3 tahun terakhir, yang biasanya beririsan dengan Ramadan dan Idul Fitri tetap tumbuh positif, didorong konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto. Artinya, secara agregat, mesin ekonomi kita tidak berhenti hanya karena kita berpuasa.

Kita juga bisa melihat dari sisi jam kerja. Kementerian Ketenagakerjaan mengatur pengurangan jam kerja selama Ramadan bagi sebagian sektor, namun pengurangan itu relatif terbatas. Jika hari kerja normal delapan jam, maka pada Ramadan bisa berkurang satu jam. Secara matematis, pengurangan itu sekitar 12,5 persen per hari. Namun tidak semua sektor mengalami pengurangan penuh, dan banyak perusahaan menerapkan sistem target berbasis output, bukan sekadar durasi kehadiran. Dengan manajemen waktu yang lebih tertata, kekurangan satu jam tidak selalu berarti penurunan kinerja sebesar satu jam.

Riset internasional memberi perspektif tambahan. Laporan dari Bank Dunia mengenai ekonomi negara mayoritas Muslim menunjukkan bahwa dampak Ramadan terhadap produktivitas sangat bergantung pada kebijakan institusi dan budaya kerja. Di beberapa negara, terjadi perlambatan jangka pendek pada jam kerja formal, tetapi diimbangi oleh peningkatan aktivitas sektor ritel, makanan, dan jasa. Kita pun merasakan fenomena serupa. Sektor transportasi, logistik, dan perdagangan justru mengalami lonjakan permintaan menjelang Idul Fitri.

Namun kita tidak bisa menutup mata terhadap tantangan fisiologis. Studi kesehatan menunjukkan bahwa perubahan pola tidur dan asupan kalori dapat memengaruhi konsentrasi, terutama pada minggu pertama puasa. Kementerian Kesehatan pernah merilis imbauan bahwa kebutuhan cairan harian tetap sekitar dua liter, yang harus dipenuhi saat sahur dan berbuka. Jika kita mengabaikan hal ini, risiko dehidrasi ringan dapat mengganggu fokus kerja. Jadi persoalannya bukan pada puasanya, melainkan pada cara kita mengelola ritme tubuh.

Di sisi lain, Ramadan justru membuka peluang peningkatan produktivitas non material. Kita cenderung lebih disiplin bangun pagi untuk sahur, lebih teratur dalam mengatur waktu, dan lebih berhati-hati dalam berbicara serta bersikap. Nilai-nilai ini relevan dengan budaya kerja modern yang menuntut integritas dan pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 13 jam, semestinya kita juga mampu menahan godaan menunda pekerjaan atau memperpanjang waktu istirahat.

Kita juga perlu melihat struktur tenaga kerja nasional. Data Badan Pusat Statistik Agustus 2024 menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai lebih dari 147 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka sekitar 5 persen. Mayoritas bekerja di sektor informal dan usaha mikro kecil menengah. Bagi mereka, Ramadan bukan alasan untuk menurunkan aktivitas. Pedagang takjil, pengemudi ojek daring, hingga pelaku UMKM justru memperpanjang jam operasional menjelang berbuka. Denyut ekonomi senja di berbagai kota memperlihatkan bahwa produktivitas bisa bergeser waktunya, bukan menghilang.

Tantangan terbesar kita justru terletak pada manajemen institusi. Jika organisasi masih mengukur kinerja semata dari kehadiran fisik, maka Ramadan akan selalu dipersepsikan sebagai masa penurunan output. Tetapi jika ukuran keberhasilan berbasis hasil kerja, inovasi, dan pelayanan, maka fleksibilitas jam kerja dapat menjadi solusi. Banyak kantor kini menerapkan sistem kerja hibrida yang terbukti efektif sejak pandemi. Pengalaman itu seharusnya menjadi pelajaran bahwa produktivitas tidak identik dengan lamanya kita duduk di kursi kantor.

Ramadan juga menguji etos pelayanan publik. Kita sering mendengar keluhan bahwa layanan melambat karena petugas berpuasa. Padahal standar pelayanan minimal tidak mengenal musim. Jika kita ingin menjaga kepercayaan publik dan stabilitas ekonomi, disiplin pelayanan harus tetap terjaga. Dalam konteks ini, puasa seharusnya menjadi latihan kesabaran, bukan alasan pembenaran. Maka pertanyaannya kembali kepada kita, apakah kita akan menjadikan Ramadan sebagai dalih untuk melambat, atau sebagai energi moral untuk bekerja lebih jujur, lebih efisien, dan lebih bermakna.

Jika kita mampu menyelaraskan disiplin spiritual dengan profesionalisme, maka Ramadan bukan hanya bulan ibadah personal, melainkan juga musim pembuktian bahwa integritas dan produktivitas dapat berjalan beriringan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code