Ad Code

Menimbang Harga Pangan di Ambang Ramadan


HARGA pangan selalu menjadi isu yang hangat setiap mendekati Ramadan. Data terbaru harga pangan menjelang Ramadan 2026 yang kurang beberapa hari lagi ini, menunjukkan dinamika yang menarik sekaligus penuh tantangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan tahunan turun menjadi sekitar 1,14 persen pada Januari 2026, setelah sebelumnya mencapai lebih dari 6 persen di akhir 2025. Sementara itu, deflasi pangan juga tercatat hampir 2 persen pada bulan yang sama, menunjukkan bahwa harga beberapa komoditas turun dibandingkan periode sebelumnya. 

Namun di balik angka statistik yang tampak menjanjikan, realitas di pasar seringkali berbeda. Laporan media dan pengamatan masyarakat menunjukkan bahwa beberapa komoditas strategis tetap mengalami tekanan harga. Misalnya, sejumlah pedagang di berbagai pasar mengabarkan kenaikan pada harga bawang merah, cabai, dan beberapa bahan pokok lainnya. Tidak jarang, lonjakan harga tersebut mencapai dua digit persentase dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Meskipun angka rata-rata inflasi pangan tampak terkendali, kita yang belanja setiap hari merasakan bahwa kenaikan harga tetap mencekik di kantong. 

Pemerintah tentu tak tinggal diam. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa stok pangan strategis seperti beras mencapai titik tertinggi dalam sejarah dengan sekitar 3,3 juta ton tersimpan, jauh di atas kebutuhan yang diperkirakan. Intervensi melalui penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas strategis dan operasi pasar murah diperkuat untuk meredam tekanan harga. Selain itu, bantuan pangan juga disiapkan untuk jutaan keluarga penerima manfaat agar daya beli masyarakat tetap terjaga selama Ramadan dan Idulfitri. 

Namun langkah-langkah kebijakan itu harus kita pandang realistis. Jutaan rumah tagga keluarga akan menghadapi periode di mana konsumsi pangan cenderung meningkat tajam. Tradisi berbuka puasa dan sahur bukan hanya ritual spiritual bagi banyak rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber pengeluaran besar dalam sebulan penuh. Permintaan yang melonjak jelas memberi tekanan ekstra pada harga. Pengalaman setiap tahunnya menunjukkan bahwa tren kenaikan harga komoditas seperti ayam, telur, dan cabai hampir tak terelakkan ketika Ramadan tiba. 

Permasalahan harga pangan juga bukan hanya soal angka. Dampaknya menyentuh aspek kesejahteraan sosial dan ekonomi secara luas. Kita melihat bagaimana rumah tangga berpenghasilan rendah harus mengatur ulang belanja bulanan mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu, kelompok menengah yang biasanya menikmati beragam pilihan pangan menjadi lebih berhitung dalam setiap pembelian. Ketika harga pangan meningkat, konsumsi barang lain seperti pendidikan, kesehatan, bahkan tabungan harus direm. Ini tentu berdampak pada potensi pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek. Inflasi pangan yang tinggi, meskipun hanya sementara, dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperlambat konsumsi lain yang lebih produktif. 

Kita pun tidak bisa menutup mata terhadap peran distribusi dan rantai pasok. Salah satu faktor yang kerap memicu kenaikan harga adalah kendala distribusi dari sentra produksi ke pasar konsumen. Infrastruktur yang kurang memadai dan biaya logistik yang tinggi langsung ditransmisikan pada harga jual yang lebih tinggi. Selain itu, faktor cuaca juga sering mengacaukan harga komoditas hortikultura, terutama ketika hasil panen terganggu oleh hujan berlebih atau kekeringan. Tekanan dari sisi pasokan seperti ini seringkali memicu kenaikan harga lebih tinggi daripada yang bisa dikendalikan oleh intervensi pasokan pemerintah. 

Tentu kita juga perlu melihat aspek struktural dari penyebab tekanan harga pangan. Pola konsumsi masyarakat yang berubah, ketergantungan pada impor untuk beberapa komoditas tertentu, serta volatilitas harga global turut memengaruhi kondisi domestik. Ketika harga pangan global naik atau mata uang domestik melemah, biaya impor bahan pangan ikut terdorong. Dalam konteks ini, kebijakan perdagangan dan moneter memiliki peran penting untuk menjaga stabilitas harga. Pemerintah dan Bank Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan operasi pasar murah, tetapi perlu ada strategi jangka panjang yang menjamin ketahanan pangan. 

Dan yang paling penting dari semua kebijakan adalah bagaimana kita bersama memahami tantangan ini bukan sebagai momentary glitch, tetapi sebagai refleksi kebutuhan reformasi sektor pangan yang lebih luas. Kita tidak bisa berharap bahwa komoditas pangan akan stabil hanya karena Ramadan akan datang. Tanpa perbaikan menyeluruh pada sistem pertanian, distribusi, serta perlindungan daya beli masyarakat yang lemah, tekanan harga akan terus terjadi dari satu momen ke momen lain. Ramadan boleh menjadi momentum untuk introspeksi bersama akan ketahanan pangan nasional kita. 

Dengan demikian, harapan kita Ramadan tahun ini tidak hanya sebagai bulan refleksi spiritual tetapi juga momentum bagi kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada masyarakat luas. Harga pangan yang terjangkau bukan sekadar angka statistik tetapi realitas yang menentukan kesejahteraan rumah tangga Indonesia. Semoga kebijakan yang ditempuh tidak hanya meredam gejolak sesaat tetapi membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code