Ad Code

Bagaimana Memulai Menulis Opini bagi Pemula?

Ilustrasi Menulis Opini [Foto: pixabay]

BANYAK dari kita menyimpan keinginan untuk menulis. Niat itu sering muncul ketika melihat ketidakadilan, membaca kebijakan yang janggal, atau menyaksikan peristiwa sosial yang mengusik nurani. Namun, niat tersebut kerap berhenti di kepala. Kita merasa belum cukup siap, belum cukup pintar, atau belum cukup berani. Akhirnya, tulisan tak pernah lahir. Padahal, jarak antara niat dan tindakan dalam menulis sering kali bukan soal kemampuan, melainkan soal keberanian memulai.

Hambatan pertama menulis opini bagi pemula biasanya adalah rasa takut salah. Kita khawatir argumen kita lemah, bahasa kita tidak indah, tidak berbunga-bunga, atau tulisan kita akan ditolak media. Ketakutan ini wajar, tetapi jika dibiarkan, ini akan menjadi penghalang permanen. Menulis sejatinya adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Tidak ada penulis yang langsung mahir tanpa melalui fase canggung dan keliru. Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari latihan intelektual.

Memulai menulis berarti menerima ketidaksempurnaan. Tulisan pertama mungkin tidak rapi, alurnya meloncat, atau datanya belum kuat. Namun, tulisan yang tidak sempurna jauh lebih berharga daripada niat sempurna yang tidak pernah diwujudkan. Dengan menulis, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Setiap paragraf yang kita susun adalah langkah kecil menuju keterampilan yang lebih matang.

Langkah awal yang paling realistis bagi pemula adalah membaca secara sadar. Menulis yang baik hampir selalu lahir dari membaca yang serius. Kita perlu membiasakan diri membaca artikel opini, laporan jurnalistik, dan esai yang relevan dengan isu yang kita minati. Dari sana, kita belajar struktur argumen, cara menggunakan data, dan gaya bahasa yang efektif. Membaca bukan untuk meniru mentah-mentah, tetapi untuk memahami standar wacana publik.

Setelah membaca, langkah berikutnya adalah menulis secara rutin, meski singkat. Banyak pemula terjebak pada target muluk.Misalnya ingin langsung menulis artikel panjang dan mendalam. Padahal, membangun kebiasaan jauh lebih penting daripada mengejar hasil besar. Menulis satu paragraf refleksi setiap hari atau mencatat gagasan singkat tentang isu tertentu sudah cukup untuk melatih otot berpikir. Konsistensi kecil lebih berpengaruh daripada semangat besar yang cepat padam.

Dan tak kalah pentingnya, bagi kita untuk menulis tentang hal yang dekat dengan pengalaman. Pemula sering merasa harus menulis topik besar agar terlihat “layak”. Padahal, kekuatan tulisan justru sering terletak pada kedekatan penulis dengan masalah yang dibahas. Guru menulis tentang pendidikan, petani tentang pertanian, warga desa tentang pembangunan desa, adalah bentuk pengetahuan otentik. Pengalaman konkret memberi kedalaman yang tidak bisa digantikan oleh teori semata.

Memasuki tahap pengiriman tulisan ke media, kita perlu membangun mental tahan banting. Penolakan adalah bagian tak terpisahkan dari proses ini. Bahkan penulis berpengalaman pun masih sering ditolak. Penolakan tidak selalu berarti tulisan kita buruk. Bisa jadi tidak sesuai kebutuhan redaksi atau momentum isu. Yang penting adalah belajar dari setiap pengalaman, memperbaiki struktur, memperjelas argumen, dan menajamkan relevansi.

Di sisi lain, kita juga perlu membangun etika menulis sejak awal. Menulis opini bukan berarti bebas dari tanggung jawab fakta. Setiap data yang kita gunakan perlu diperiksa, setiap kutipan perlu jelas sumbernya. Etika ini penting bukan hanya untuk menjaga kredibilitas tulisan, tetapi juga untuk melatih kejujuran intelektual. Kepercayaan pembaca dibangun perlahan, dan sekali rusak, sulit dipulihkan.

Teknologi digital sebenarnya memberi keuntungan besar bagi penulis pemula. Kita bisa menulis di blog pribadi (seperti blog saya ini, www.pencangkul.com), platform komunitas, atau media alternatif sebelum menembus media arus utama. Ruang-ruang ini bisa menjadi laboratorium latihan dan pembelajaran, tempat menguji gagasan, menerima umpan balik, dan memperbaiki gaya tulisan. Yang terpenting, kita membiasakan diri menulis untuk publik, bukan hanya untuk diri sendiri.

Dengan demikian, memulai menulis adalah keputusan etis. Kita memilih untuk tidak hanya mengeluh dalam diam, tetapi menyusun pikiran dan menyampaikannya secara bertanggung jawab. Kita memilih untuk berkontribusi pada ruang publik, sekecil apa pun kontribusi itu. Dari niat ke tindakan, yang dibutuhkan bukan bakat luar biasa, melainkan keberanian biasa yang dilakukan terus-menerus.

Ketika kita menulis hari ini, kita sedang membangun fondasi bagi suara kita sendiri. Mungkin suaranya masih gemetar, parau atau terdengan galau, tetapi itu nyata. Dan suara yang nyata, jika terus diasah, akan menemukan kekuatannya. Menulis bagi pemula bukan soal menjadi hebat seketika, melainkan soal memulai perjalanan intelektual yang panjang, dan perjalanan yang panjang selalu dimulai dengan satu langkah pertama.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code