Ad Code

Megengan dan Realitas Dapur Kita


MEGENGAN sering kita anggap sebagai bagian ritual menjelang Ramadan, tradisi saling berbagi makanan untuk tetangga dan kerabat sebagai penanda masuknya bulan suci. Di balik suasana hangat ini, ada realitas yang tak boleh kita lewatkan tentang bagaimana megengan itu mencerminkan kondisi dapur kita sehari-hari menjelang Ramadan, terutama ketika harga pangan dan dinamika konsumsi ikut menentukan kesejahteraan. Fenomena ini bukan sekadar tradisi kultural tetapi juga cermin bagaimana ekonomi rumah tangga dan kebijakan publik berinteraksi di momen spesial ini.

Mengapa megengan sering menjadi waktu yang penuh tantangan secara ekonomi? Salah satu faktornya adalah perubahan harga kebutuhan pokok yang sering naik di awal Ramadan karena lonjakan permintaan berbagai barang kebutuhan pokok. Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan tren kenaikan harga beberapa barang kebutuhan pokok ketika Ramadan semakin dekat. Misalnya, telur ayam naik lebih dari 10 persen dalam satu bulan, bawang merah meningkat lebih dari 6 persen, dan daging ayam serta beras mencatat kenaikan yang tak bisa dipandang remeh. 

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan berbagai strategi untuk meredam gejolak harga pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) optimistis tahun ini harga dan pasokan tetap terkendali sampai Ramadan 2026 dengan memastikan harga eceran tertinggi sesuai ketentuan pemerintah diberlakukan. Ditambah lagi, proyeksi neraca pangan menunjukkan bahwa beberapa komoditas utama seperti beras, jagung, dan protein hewani memiliki surplus stok dibanding kebutuhan konsumsi selama dua bulan mendekati Ramadan. 

Hal ini penting, kenapa? Karena megengan bukan hanya soal memberi sesuatu kepada tetangga tetapi juga soal kemampuan kita memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga sendiri sebelum puasa dimulai. Ketika harga pangan naik dan suplai tidak merata antar daerah, rumah tangga berpenghasilan rendah akan memikul beban yang lebih berat. Efeknya bisa meluas hingga memengaruhi pola konsumsi masyarakat yang akhirnya membuat lebih banyak orang menunda pembelian bahan makanan atau memilih produk dengan kualitas lebih rendah. Inilah tantangan kita, mempertahankan tradisi berbagi tanpa mengorbankan kesejahteraan keluarga sendiri.

Tak jarang pula konsumerisme menjelang Ramadan ikut memperuncing realitas dapur kita. Iklan diskon besar, promo makanan siap saji, dan godaan menghadirkan menu istimewa sering kali membuat kita tergoda belanja lebih dari kebutuhan pokok. Situasi ini berbanding terbalik dengan esensi megengan yang semestinya menumbuhkan solidaritas dan rasa cukup, bukan ajang kompetisi konsumsi berlebihan.

Secara ekonomi makro, kita juga melihat bagaimana kenaikan harga pangan berdampak pada inflasi . Selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri, inflasi harga bahan makanan sering memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi nasional karena meningkatnya permintaan rumah tangga akan bahan makanan. Sementara pemerintah mencoba menahan laju ini melalui program stabilisasi harga, kenyataannya gejolak harga di daerah-daerah terkadang tetap tergantung mekanisme pasar di tingkat pedagang dan distributor. 

Realitas ini mengajarkan bahwa megengan bukan soal makanan saja, tetapi refleksi kesiapan pranata sosial dan ekonomi kita dalam menghadapi bulan yang penuh berkah ini. Jika kita mampu menjaga pola konsumsi yang bijak, memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan, serta saling berbagi tanpa paksaan, maka megengan bisa menjadi momentum memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus menjaga keharmonisan sosial.

Tradisi megengan seperti kaca pembesar yang memantulkan wajah konsumsi kita sehari-hari sekaligus kerapuhan dapur kita menghadapi tekanan harga. Dalam konteks itu, megengan bisa menjadi panggilan untuk kembali ke nilai sederhana berbagi yang bertanggung jawab, bukan sekadar pemuas ego sosial. Ketika kita sukses menata dapur sendiri dengan bijak dan saling membantu antar tetangga, semangat Ramadan yang sejati akan terasa, bukan hanya di meja berbuka tetapi juga dalam kesejahteraan banyak orang sepanjang tahun. Marhaban ya Ramadan!

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code