Menurut Glance Report 2025, lebih dari 50 persen konsumen Indonesia berencana meningkatkan anggaran belanja mereka selama Ramadan. Sebagian besar menganggarkan lebih dari tiga juta rupiah untuk membeli kebutuhan dan hadiah, bahkan 22 persen berencana menghabiskan lebih dari lima juta rupiah. Fokus pengeluaran ini tak hanya pada kebutuhan pokok, tetapi juga pada pakaian, aksesori, dan produk gaya hidup yang sebenarnya bukan kebutuhan esensial saat berpuasa.
Gaya konsumsi seperti ini menimbulkan pertanyaan besar tentang niat kita memasuki bulan suci. Apakah Ramadan identik dengan “harus” membeli lebih banyak, atau justru menjadi momentum untuk pengendalian diri? Bila kita memahami puasa sebagai sarana untuk menahan lapar dan dahaga, maka tidak keliru juga bila kita melihatnya sebagai ajang untuk menahan diri dari hawa nafsu lain, termasuk godaan konsumtif yang kini semakin canggih lewat belanja online 24 jam.
Fenomena ini semakin menarik bila kita mencermati data dari berbagai lembaga. Survei Populix tahun lalu menunjukkan pola belanja Ramadan 2025 lebih banyak fokus pada kebutuhan harian seperti bahan makanan dan minuman dibandingkan produk fashion atau hiburan. Namun, belanja di e-commerce masih meningkat pesat terutama karena promosi dan diskon besar pada platform digital. Ini berarti cara kita mengatur pengeluaran juga berubah, yaitu dari sekadar mendatangi pasar tradisional ke pencarian harga terbaik melalui gawai.
Namun demikian, data lain menunjukkan sisi lain dari perilaku konsumsi kita. Pada Maret 2025 lalu atau saat ramadan, data Mandiri Spending Index menunjukan bahwa masyarakat cenderung lebih definsif dalam mengalokasikan belanja mereka, terutama di sektor gaya hidup, sementara belanja untuk kebutuhan esensial meningkat moderat. Artinya, ada pola berbelanja yang lebih terarah bukan hanya sekadar memenuhi “keinginan” konsumtif semata.
Kondisi ekonomi makro juga turut mempengaruhi cara kita menyikapi Ramadan. Bank Indonesia memprakirakan tekanan inflasi pada Ramadan 2026, sementara data inflasi awal tahun ini menunjukkan peningkatan harga pangan yang mempengaruhi daya beli masyarakat. Di sisi lain, Indonesia mengalami periode deflasi terutama karena harga kebutuhan pokok yang stabil, namun hal ini tetap mencerminkan dinamika ekonomi yang kompleks selama Ramadan.
Tetntu situasi tersebut memaksa kita untuk berpikir ulang. Apakah peningkatan belanja merupakan sesuatu yang reflektif terhadap kegembiraan spiritual, ataukah justru cerminan dari kekhawatiran di tengah ketidakpastian ekonomi? Tradisi membeli baju baru, takjil, parsel dan hadiah bagi keluarga tentu telah melekat dalam budaya kita. Namun perilaku ini sering kali dibarengi dengan tekanan sosial dan persaingan gaya hidup, terutama di generasi muda yang hidup dalam era digital. Di media sosial, Ramadan sering kali dipresentasikan sebagai skenario sempurna dari “gaya hidup ideal” dengan foto-foto makanan, outfit, dan acara buka bersama. Pola ini bisa memperkuat narasi konsumtif yang jauh dari esensi puasa sebagai ajang refleksi batin.
Menata niat di tengah arus konsumsi seperti ini bukan perkara mudah. Kita perlu menyadari bahwa niat yang tulus bukan hanya tentang menjaga pola makan selama berpuasa, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan. Konsumerisme yang berlebihan bisa membuat kita lupa tujuan utama Ramadan yaitu memperbaiki diri, meningkatkan solidaritas, dan menumbuhkan rasa syukur. Dalam hal ini, Ramadan seharusnya menjadi ajang pembelajaran ekonomi moral, yaitu bagaimana kita membelanjakan harta bukan hanya untuk memuaskan ego, tetapi untuk memenuhi nilai-nilai hidup yang lebih luhur.
Kita pun perlu mendorong dialog sosial tentang konsumsi yang lebih berkelanjutan di bulan Ramadan. Misalnya, bagaimana menghargai tradisi bazar tanpa kehilangan kesederhanaan puasa? Bagaimana memanfaatkan diskon dan promosi secara bijak tanpa terjebak dalam “belanja karena diskon”? Bagaimana memupuk nilai berbagi dengan sedekah dan zakat, bukan sekadar memberi hadiah mahal?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bukan hanya akan membersamai semangat Ramadan, tetapi juga menjadi bekal setelah Ramadan. Jika setelah sebulan berpuasa kita mampu lebih disiplin mengelola pengeluaran, lebih peka terhadap ketimpangan, maupun godaan pasar, berarti kita tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan finansial. Di sinilah niat menemukan maknanya yang utuh, karena Ramadan bukan musim belanja semata, tetapi momentum membangun keseimbangan antara iman dan pengelolaan ekonomi yang berkelanjutan. Semoga!


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!