Ad Code

UMKM Takjil dan Denyut Ekonomi Senja


SETIAP Ramadan, kita menyaksikan perubahan ritme ekonomi yang begitu terasa menjelang waktu berbuka. Di sudut gang, di tepi jalan raya, hingga halaman masjid, deretan pedagang takjil bermunculan membawa kolak, es buah, gorengan, dan aneka penganan manis. Fenomena ini bukan sekadar tradisi musiman, melainkan denyut ekonomi senja yang menghidupi jutaan pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di negeri ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah UMKM di Indonesia telah melampaui 65 juta unit dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto berada di kisaran 60 persen lebih. Angka ini memberi gambaran betapa UMKM menjadi tulang punggung ekonomi kita. Ketika Ramadan tiba, sebagian dari jutaan unit usaha itu bertransformasi menjadi pedagang takjil musiman, memanfaatkan momentum lonjakan permintaan konsumsi rumah tangga.

Kita tahu bahwa konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Pada banyak triwulan pertama dalam beberapa tahun terkahir, konsumsi cenderung menguat seiring Ramadan dan Idul Fitri. Bank Indonesia berulang kali mencatat adanya peningkatan transaksi ritel dan peredaran uang kartal menjelang hari raya. Pada periode Ramadan dan Idul Fitri 2025 misalnya, Bank Indonesia menyiapkan ratusan triliun rupiah uang layak edar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Peningkatan likuiditas ini mencerminkan geliat ekonomi yang salah satunya digerakkan oleh transaksi kecil di lapak takjil.

Kita sering memandang pedagang takjil sebagai fenomena sederhana, padahal di baliknya terdapat rantai nilai yang panjang. Seorang penjual es buah membeli buah dari pasar tradisional, gula dari toko grosir, plastik kemasan dari distributor, dan es batu dari produsen rumahan. Setiap transaksi menciptakan efek berganda bagi pelaku usaha lain. Inilah yang dalam teori ekonomi kita kenal sebagai multiplier effect. Nilainya mungkin kecil per transaksi, tetapi ketika terjadi serentak di banyak titik selama sebulan penuh, dampaknya menjadi signifikan.

Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar 99 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM. Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia juga mencatat bahwa sektor kuliner merupakan salah satu subsektor dengan jumlah pelaku terbanyak dalam ekonomi kreatif. Ramadan memperkuat posisi subsektor ini. Banyak pekerja informal, ibu rumah tangga, bahkan karyawan yang mencoba peruntungan dengan membuka lapak takjil sementara. Kita menyaksikan bagaimana modal sosial berupa jaringan tetangga dan pelanggan tetap menjadi aset utama.

Namun, denyut ekonomi senja ini juga menghadapi tantangan. Kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadan kerap menekan margin keuntungan pedagang kecil. Ketika harga gula, minyak goreng, atau tepung naik beberapa persen saja, ruang keuntungan mereka semakin sempit. Kita perlu menyadari bahwa UMKM takjil beroperasi dengan skala modal terbatas. Mereka tidak memiliki daya tawar sebesar ritel modern dalam memperoleh harga grosir. Karena itu stabilitas harga pangan menjadi kunci agar momentum Ramadan benar benar memberi berkah ekonomi.

Di sisi lain, digitalisasi mulai mengubah wajah perdagangan takjil. Kita melihat sebagian pedagang memanfaatkan media sosial dan layanan pesan antar untuk memperluas pasar. Data Bank Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan transaksi digital selama Ramadan dalam beberapa tahun terakhir. Ini membuka peluang bagi UMKM untuk naik kelas, tetapi sekaligus menuntut kemampuan adaptasi. Tanpa literasi digital yang memadai, pelaku usaha kecil bisa tertinggal di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap persoalan kualitas dan keamanan pangan. Ledakan jumlah pedagang musiman sering kali tidak diikuti pengawasan yang memadai. Padahal kepercayaan konsumen adalah modal utama UMKM. Jika ada kasus makanan tidak higienis atau penggunaan bahan berbahaya, dampaknya bisa merusak reputasi banyak pelaku usaha lain. Di sinilah peran pemerintah menjadi penting untuk melakukan pembinaan dan edukasi.

Lebih jauh lagi, fenomena takjil menunjukkan betapa ekonomi kita sangat dipengaruhi faktor sosial dan kultural. Ramadan mendorong kita untuk berbagi, berkumpul, dan berbuka bersama. Tradisi ini menciptakan permintaan kolektif yang kuat. Dalam kacamata ekonomi, ini memperlihatkan bahwa nilai budaya dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi. Kita tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membeli pengalaman dan kebersamaan.

Dengan demikian, tatkala kita membeli seporsi kolak atau sepotong gorengan menjelang magrib, sesungguhnya kita sedang menggerakkan roda ekonomi rakyat. Setiap rupiah yang kita keluarkan berkontribusi pada pendapatan keluarga kecil yang menggantungkan harapan pada bulan suci. Ramadan menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu lahir dari proyek besar dan investasi raksasa tetapi bisa tumbuh dari lapak sederhana di pinggir jalan, dari senyum pedagang takjil yang juga menunggu azan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code