JOMBANG memang istimewa dan unik. Di Jombang, kita bisa menemukan ribuan santri, ulama, ratusan pesantren, makam ulama, sego sadukan, kitab kuning, warung kopi, Ponari, Soto Dok, Eyang Subur, teplek, dan tentu saja segala macam warna-warni kehidupan yang entah mengapa selalu terasa “Jombang banget”.
Beberapa hari ini, ribuan orang tumplek blek datang ke Jombang dalam perhelatan Muktamar NU ke-35. Yang datang bukan hanya para kiai dan nahdliyin. Ada presiden, menteri, para politisi, pengamat politi, jurnalis, undangan resmi, romli alias rombongan liar, sampai romlah alias rombongan lillahita'ala. Dan yang datang bukan hanya kalangan nadliyin saja, kalau nahdliyin saja, itu mungkin pengajian akbar. Semuanya datang membawa kepentingan masing-masing. Ada yang membawa gagasan, ada yang membawa suara, ada yang membawa dagangan, ada yang membawa agenda, ada yang membawa kamera, dan tentu saja ada yang membawa kamera sambil mencari gagasan.
Tidak mau kalah, netizen dan konten kreator juga ikut menggelar “muktamar” versinya sendiri. Bedanya, Muktamar resmi punya tata tertib, palu sidang, komisi dan aturan organisasi. Muktamar dunia maya cukup bermodal telepon genggam, kuota internet, tripod, dan keberanian berbicara seolah-olah baru saja pulang dari sidang pleno.
Di tengah hiruk-pikuk itulah muncul istilah “MUTAKMAR”, yang dipopulerkan oleh konten kreator Jombang, Koko Jesse alias Koko Berkat bersama Cak Ukil yang mempunyai latar belakang budaya dan keyakinan berbeda. Keduanya seperti pasangan duet yang menemukan chemistry justru dari pertengkaran. Salah satunya soal muktamar. Yang satu mengatakan “Mutakmar”, yang satu lagi sibuk mengoreksi, “Muktamar!” Tetapi semakin dikoreksi, Koko Jesse semakin bandel dan ndableg. Seolah-olah salah ucap justru merupakan bagian dari strategi komunikasi. Kalau dalam bahasa akademik disebut konsisten, dalam bahasa nJombangan mungkin cukup disebut nggak kapok-kapok.
Kata “MUTAKMAR” yang memang menurut keyakinan saya sudah di setting dan bukan sekadar salah sebut, telah berubah menjadi produk budaya, produk "bahasa baru". Bahkan bisa jadi lebih mudah diingat daripada istilah aslinya. Di sinilah media sosial bekerja. Sebuah kata yang awalnya dianggap keliru bisa justru menjadi lebih populer karena diulang, ditertawakan, diperdebatkan, lalu dibagikan.
Dan humor semacam ini memang njombang banget. Kita bisa menertawakan sesuatu tanpa harus membencinya. Kita bisa bercanda tanpa kehilangan rasa hormat. Sebab kadang-kadang, humor justru membuat sesuatu yang terlalu serius menjadi lebih dekat dengan rasa manusia.
Namun, setelah kita tertawa mendengar mutakmar, barangkali ada pertanyaan yang perlu kita ajukan, apa yang sebenarnya sedang kita “muktamarkan”? Jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan cara menyebut Muktamar, sementara lupa memperdebatkan masa depan organisasi. Jangan sampai panggungnya ramai, media sosialnya viral, tetapi gagasannya sepi dan lupa memilih pemimpin organisasi yang "sakti".
Muktamar bukan sekadar tempat orang berkumpul, tetapi ruang untuk menentukan arah organisasi, arah bangsa dan negara. Dan mungkin, sesekali kita memang membutuhkan Koko Jesse dan Cak Ukil agar di tengah keseriusan itu kita tidak lupa bahwa organisasi sebesar NU pun tetap dihuni orang-orang yang bisa bersidang, bisa berbeda pendapat, bisa berdebat, dan tentu saja masih bisa tertawa. Yang penting, muktamar jangan bercanda, "mutakmar" silahkan tertawa!


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!