Ketika Bumi Flores Kembali Berguncang, Ingatan Saya Kembali ke Maumere

Aktivitas anak-anak Maumere di Laut Flores [Foto: Dok. Pribadi, 2008]

PAGI ini, ketika kabar gempa besar kembali datang menyasar kawasan Flores, ingatan saya segera kembali pada salah satu kota yang pernah saya tinggali hampir 3 tahun. Mamuere, bukan sekadar kota yang ada di peta, tetapi kota yang pernah berubah wajahnya akibat tragedi gempa dan tsunami beberapa dekade lalu, tepatnya pada 12 Desember 1992. 

Dan hari ini, Sabtu, 15 Agustus 2026, bumi Flores kembali berguncang. BMKG mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pukul 04.58 WIB, berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah, termasuk bagian utara Kabupaten Sikka. BMKG memodelkan status Siaga untuk Sikka bagian utara, dengan estimasi waktu tiba tsunami sekitar pukul 05.13 WIB. 

Bagi masyarakat Flores, khususnya masyarakat Kabupaten Sikka, kabar seperti ini tentu bukan berita biasa. Ada memori kolektif yang terbentuk sejak 12 Desember 1992. Ketika itu, gempa besar mengguncang Flores dan diikuti tsunami yang menelan ribuan korban. Katalog BMKG mencatat peristiwa tersebut sebagai salah satu gempa dan tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia, dengan magnitudo yang dalam berbagai katalog tercatat sekitar 7,5 hingga 7,8. Tsunami mencapai ketinggian hingga sekitar 25 meter dan korban meninggal atau hilang diperkirakan sekitar 2.500 orang. 

Maumere menjadi salah satu wilayah yang mengalami kehancuran paling parah. Saya membayangkan kembali kota yang pernah saya tinggali itu ketika membaca kisah-kisah para penyintas. Jalanan yang biasanya ramai mendadak dipenuhi kepanikan. Bangunan roboh. Orang-orang berlari mencari keselamatan. Di kawasan pelabuhan, kapal bahkan terdorong hingga ke daratan. Air laut menerobos wilayah yang selama ini dianggap sebagai ruang kehidupan sehari-hari.

Pulau Babi juga menjadi bagian paling memilukan dari tragedi tersebut. Pulau kecil di sekitar Flores itu mengalami kehancuran hebat dan menelan banyak korban. Catatan BMKG menyebut sekitar 700 orang di Pulau Babi menjadi korban dalam peristiwa 1992. Di Maumere sendiri, korban mencapai sekitar 1.490 orang.

Saya tidak berada di Maumere ketika tragedi 1992 terjadi, baru satu setengah dekade berikutnya saya berdada di maumere. Namun, tinggal selama sekitar tiga tahun di kota ini membuat saya memahami mengapa cerita tentang tsunami tersebut tidak pernah benar-benar selesai. Kota Maumere memiliki hubungan yang sangat dekat dengan laut. Pelabuhan, kawasan pesisir, kampung nelayan, dan aktivitas perdagangan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Karena itu, ketika laut berubah menjadi sumber ancaman, yang hancur bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman masyarakat.

Kawasan Wuring, misalnya, memiliki sejarah panjang sebagai permukiman nelayan yang sangat dekat dengan laut, bahkan di atas laut. Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari laut, menjauh dari pantai bukan perkara sederhana. Laut adalah tempat mencari nafkah sekaligus ruang kehidupan. Di sinilah pelajaran terbesar dari tsunami Flores terasa sangat penting. Mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan membangun tanggul atau memasang papan peringatan. Pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda tsunami dan jalur evakuasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Gempa hari ini kembali mengingatkan saya bahwa Flores memang berada di wilayah yang memiliki sejarah kegempaan kuat. BMKG sendiri mencatat Flores hingga kawasan Nusa Tenggara sebagai salah satu wilayah yang berulang kali mengalami gempa merusak dan tsunami. 

Karena itu, saya melihat gempa hari ini bukan semata-mata sebagai peristiwa geologi, tetapi sebagai peringatan. Ya, peringatan! Peringatan bahwa memori bencana harus terus dirawat agar kita juga tidak melupakan mitigasi. Bencana mungkin tidak bisa kita cegah. Tetapi korban dapat kita kurangi. Dan bagi saya, yang terpenting saat bumi kembali berbicara, yang menyelamatkan kita bukan keberanian untuk melawan alam, melainkan kesiapan untuk memahami dan menghadapinya.

Posting Komentar

0 Komentar