Ad Code

Penjual Takjil dan Teori Hotelling

Berburu Takjil (Sumber foto: kompas.com)

SELAMA bulan Ramadan, salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu sebelum berbuka puasa adalah berburu makanan ringan untuk takjil. Makanan takjil sendiri adalah makanan atau minuman kecil yang dikonsumsi saat berbuka puasa pada bulan Ramadan. Makanan takjil yang dikonsumsi masyarakat Indonesia biasanya berupa makanan atau minuman yang manis dan menyegarkan, seperti kurma, beragam kue-kue tradisional, beragam kolak, es buah, es teler, es doger, es cincau, dan berbagai jenis jus buah-buahan.

Makanan takjil ini dikonsumsi agar segera memberikan energi dan cairan yang cukup setelah seharian berpuasa sehingga tubuh tidak merasa lemas dan cepat terhidrasi. Selain itu, makan makanan takjil juga menjadi salah satu tradisi dan kebiasaan yang menjadi bagian dari budaya berpuasa di Indonesia dan juga negara-negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Takjil sendiri berarti menyegerakan, yang dalam hal ini adalah menyegerakan berbuka puasa. Menyegerakan berbuka puasa sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika berbuka puasa, Nabi Muhammad SAW biasanya memakan kurma. Hal tersebut tertuang dalam hadits yang berbunyi "Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air" (HR. Abu Daud).

Itul sebabnya di Indonesia ketika bulan Ramadan seperti saat ini marak bermunculan penjual makanan takjil. Saking banyaknya penjual makanan takjil ini, hampir di seluruh wilayah yang padat penduduk banyak dijumpai penjual makanan takjil. Seringkali para penjual makanan takjil ini terkonsentrasi di satu wilayah bahkan saling berdekatan layaknya pasar-pasar tradisional. Tentu bukan tanpa alasan penjual makanan takjil ini saling berdekatan, ada alasan strategis dan praktis serta secara teori ekonomi pun bisa dijelaskan. Alasan-alasan tersebut antara lain: Pertama, dengan berdekatan, penjual makanan takjil dapat menciptakan daerah atau zona tertentu yang menarik bagi konsumen yang mencari makanan atau minuman berbuka puasa. Ini dapat meningkatkan daya tarik lokasi tersebut dan membantu menarik lebih banyak konsumen.

Kedua, penjual makanan takjil dapat membagi biaya operasional, seperti sewa tempat, listrik, dan air (kalau menggunakan). Dengan cara ini, biaya operasional dapat dibagi antara beberapa penjual, sehingga biaya operasional setiap penjual menjadi lebih rendah.

Ketiga, penjual makanan takjil juga dapat saling mempromosikan produk dan saling mengisi persediaan. Misalnya, jika salah satu penjual kehabisan stok kurma, maka penjual lainnya dapat membantunya dengan memberikan persediaan kurma mereka. Ini dapat membantu menjaga ketersediaan produk dan meningkatkan kepuasan konsumen.

Keempat, dengan berdekatan, penjual makanan takjil juga dapat meningkatkan efisiensi operasional mereka. Misalnya, mereka dapat berbagi tenaga kerja atau peralatan seperti panci dan sendok, sehingga dapat meningkatkan efisiensi produksi dan penghematan biaya.

Dalam kacamata ekonomi, sesungguhnya alasan-alasan tersebut sudah tergambar dalam teori hotelling atau prinsip hotelling, yaitu salah satu teori ekonomi yang dikembangkan oleh Harold Hotelling pada 1929. Teori tersebut menjelaskan bagaimana bisnis atau perusahaan memutuskan lokasi mereka di suatu pasar, khususnya dalam skenario di mana hanya ada dua perusahaan. Teori hotelling telah banyak diterapkan di bidang ekonomi dan telah digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di pasar, termasuk diferensiasi produk, persaingan spasial, dan strategi penetapan harga. 

Menurut teori hotelling, di pasar dengan hanya dua perusahaan, kedua perusahaan akan menempatkan diri mereka di pusat pasar untuk memaksimalkan basis pelanggan potensial mereka. Ini karena pelanggan akan memilih perusahaan yang paling dekat dengan mereka, dan jika satu perusahaan terletak lebih jauh, mereka akan kehilangan pelanggan ke perusahaan lain.

Teori hotelling juga berlaku untuk produk atau jasa yang serupa atau homogen. Dalam hal ini, perusahaan akan membedakan produk atau layanan mereka satu sama lain untuk menarik pelanggan. Dalam konteks penjual makanan takjil, kita bisa melihat bahwa yang mereka jual memang relatif serupa dan homogen jenis barangnya. Misalnya saja seperti tersebut di awal, yang dijual yaitu berbagai jenis makanan seperti kolak, es buah, es teler, es cincau, atau jus buah-buahan. Dan hanya penjual makanan takjil yang punya diferensiasi tertentu saja yang bisa menjadi daya tarik pelanggan, entah itu diferensiasi produknya, harganya, maupun layanan dari penjualnya. 

Dengan demikian, sekali lagi, mengapa para penjual takjil saling berdekatan dalam aktivitas jualannya, semata-mata memang karena alasan strategis dan ekonomis serta usaha untuk saling memperkuat bisnis mereka. Selamat berburu dan menikmati makanan takjil!

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code