![]() |
| Kopi Banyuwangi [Foto: kedaibolokopi] |
Jejak itu membawa kita kembali ke tahun 1788. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Clement de Harris, seorang pejabat yang berkaitan dengan administrasi kolonial di wilayah Besuki, memperkenalkan tanaman kopi di Banyuwangi. Kopi pertama kali ditanam di Sukaraja, wilayah yang sekarang masuk Kecamatan Giri.
Kehadiran kopi ketika itu bukan sekadar memperkenalkan tanaman baru kepada masyarakat. Kopi perlahan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang awalnya tumbuh di lahan tertentu kemudian berkembang ke berbagai kawasan yang memiliki kondisi alam sesuai untuk budidayanya.
Perubahan besar terjadi ketika pemerintah kolonial menerapkan Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa pada 1830. Kopi menjadi salah satu tanaman yang didorong untuk menghasilkan keuntungan bagi pemerintah kolonial. Penduduk diwajibkan menanam tanaman perdagangan di lahan yang telah ditentukan, sementara hasilnya masuk ke dalam sistem ekonomi kolonial.
Banyuwangi pun ikut berubah. Perkebunan kopi berkembang ke berbagai wilayah, terutama kawasan yang memiliki ketinggian dan kondisi tanah yang cocok. Songgon, Wongsorejo, Glagah, Licin, Kalipuro, Pesanggaran, Glenmore, hingga Kalibaru kemudian dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang perkebunan kopi.
Kalibaru menjadi salah satu kawasan penting. Letaknya yang berada di kawasan pegunungan memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kopi. Dari sinilah kopi Banyuwangi kemudian semakin terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.
Pada masa tersebut, perkebunan bukan hanya dikelola oleh masyarakat lokal. Sejumlah perusahaan Eropa masuk dan membangun perkebunan dalam skala besar. Nama-nama perusahaan seperti NV Cultuur Maatschappij Lidjen Dordrecht dan Société de Culture der Pacuoda Paris menjadi bagian dari sejarah panjang perkebunan di kawasan Banyuwangi.
Perusahaan-perusahaan tersebut membawa pola pengelolaan perkebunan yang lebih terorganisasi. Infrastruktur dibangun untuk menunjang produksi dan distribusi. Namun, di balik perkembangan ekonomi tersebut, terdapat pula sejarah panjang mengenai hubungan antara pemilik perkebunan dan tenaga kerja lokal.
Salah satu jejak pentingnya berada di Malangsari, Kalibaru. Pada 1928, pengolahan kopi di kawasan ini memasuki fase baru dengan hadirnya fasilitas pengolahan. Pada masa awal, proses produksi masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Banyak pekerja lokal terlibat dalam berbagai tahapan pengolahan kopi.
Bagi masyarakat sekitar, perkebunan kopi bukan hanya tempat menghasilkan komoditas. Perkebunan juga menjadi ruang kehidupan. Aktivitas menanam, merawat, memetik, mengolah, hingga membawa hasil panen menciptakan hubungan erat antara kopi dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Sejarah kemudian berbelok setelah Indonesia merdeka. Perkebunan-perkebunan yang sebelumnya berada dalam penguasaan perusahaan Belanda mengalami proses nasionalisasi. Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan perkebunan.
Pengelolaan perkebunan negara kemudian berkembang melalui perusahaan-perusahaan perkebunan milik negara, termasuk PTPN XII yang dikenal memiliki sejumlah perkebunan kopi di Jawa Timur. Kalibaru dan kawasan sekitarnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan kopi Banyuwangi.
Malangsari kembali memiliki cerita tersendiri. Pabrik kopi yang diresmikan pada 1975 menjadi salah satu penanda perkembangan pengolahan kopi setelah era kolonial. Kehadiran fasilitas tersebut memperkuat posisi kawasan sebagai sentra produksi sekaligus pengolahan kopi.
Menariknya, perjalanan kopi tidak berhenti pada perubahan kepemilikan. Teknologi pengolahan terus berkembang. Kopi yang dahulu diproses dengan peralatan sederhana kini dapat melalui tahapan pengolahan yang semakin terukur untuk menjaga mutu dan cita rasa.
Kopi Banyuwangi juga semakin dikenal karena karakter wilayah tumbuhnya. Lereng-lereng pegunungan, tanah vulkanik, iklim, ketinggian, dan cara budidaya menciptakan karakter yang berbeda pada kopi yang dihasilkan. Kopi dari kawasan seperti Malangsari kemudian memiliki tempat tersendiri di mata penikmat kopi.
Kini, ketika kita berbicara tentang kopi Banyuwangi, yang dibicarakan sebenarnya bukan hanya biji kopi. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perubahan zaman. Dari tanaman yang diperkenalkan pada masa kolonial, berkembang menjadi komoditas perkebunan, melewati masa tanam paksa, nasionalisasi, hingga memasuki era industri kopi modern. Secangkir kopi Banyuwangi menjadi semacam arsip yang bisa kita nikmati. Ada jejak perkebunan, tangan para pekerja, perjalanan panjang perdagangan, dan perubahan sosial di dalamnya.
Karena itu, ketika suatu hari kita menyeruput kopi dari Banyuwangi, mungkin kita tidak lagi melihatnya sekadar sebagai minuman. Kita sedang menikmati bagian dari perjalanan sejarah yang telah berlangsung lebih dari dua abad. Dari Sukaraja menuju perkebunan-perkebunan di lereng pegunungan, dari Malangsari menuju pasar yang lebih luas, kopi Banyuwangi terus menemukan cara untuk bertahan, berkembang, dan menceritakan kembali asal-usulnya melalui aroma dan cita rasa.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!