Ad Code

Mencermati Mahalnya Harga Beras di Indonesia

Beras di Pasar (Foto: kompas.com)

BERAS merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia, yang menjadi sumber karbohidrat bagi sebagian besar penduduk. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, atau pasca pilpres, harga beras di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Sejauh ini harganya mencapai Rp. 15.000 per kilogram untuk beras medium dan Rp. 18.000 per kilogram untuk beras premium dan ini adalah harga paling tinggi dalam sejarah perberasan di Indonesia. Akibatnya ratusan warga di berbagai daerah di Indonesia harus antre berjam-jam untuk bisa mendapatkan beras murah yang digelar pemerintah lewat operasi pasar. 

Salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga beras adalah ketergantungan Indonesia pada impor beras. Meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen beras terbesar di dunia, namun Indonesia juga menjadi salah satu konsumen beras terbesar dengan tingkat konsumsi rerata 80 kg per kapita per tahun, namun untuk kelompok pendapatan tertentu masih di atas 110 kg per kapita per tahun. Sementara itu tingkat partisipasi konsumsi beras sebesar 98,35 persen (BPS, 2022), yang artinya hampir seluruh penduduk Indonesia konsumsi pangan utamanya bergantung pada beras. Akibatnya, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik secara mandiri. Sebagai hasilnya, Indonesia harus mengimpor beras dari negara-negara lain, yang tentu saja meningkatkan harga akhir beras di pasaran. 

Selain itu, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap mahalnya harga beras adalah rendahnya produktivitas pertanian di Indonesia. Banyak petani yang masih menggunakan metode pertanian tradisional dan teknologi yang terbatas, juga lahan yang terbatas (gurem) sehingga hasil panen mereka tidak maksimal. Selain itu, faktor cuaca juga seringkali menjadi kendala dalam produksi beras, seperti banjir, kekeringan, atau serangan hama dan penyakit tanaman.

Kenaikan harga beras juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti fluktuasi harga beras di pasar dunia, nilai tukar mata uang, dan kebijakan perdagangan internasional. Ketika harga beras di pasar dunia naik, harga beras di Indonesia juga cenderung mengalami kenaikan.

Selanjutnya, adanya praktik kartel dan monopoli dalam distribusi beras juga turut menyebabkan harga beras menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Praktik-praktik ini seringkali mengakibatkan kelangkaan beras di pasaran, yang kemudian dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara tidak wajar. Belum lagi beras juga seringkali menjadi komoditas politik, yang tentu saja keberadaannya seringkali tergantung konisis "cuaca" dan "suhu" perpolitikan. 

Tidak hanya masalah distribusi beras saja sebenarnya, namun pada pasar input produksi pertanian semacam bibit, sarana dan prasarana, pupuk dan obat-obatan juga seringkali menjadi kendala bagi petani untuk bisa beproduksi secara optimal.

Dampak dari mahalnya harga beras sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di golongan ekonomi bawah, termasuk petani padi itu sendiri. Kok bisa? Ya meskipun petani disatu sisi sebagai produsen padi, di sisi lalin mereka juga sebagai konsumen beras. Dan kalaupun harga beras mahal, seringkali selisih harga itu tak transmisi ke petani. Jadi meskipun harga beras mahal belum tentu pendapatan petani ikut meningkat. Mereka tetap merasakan beban ekonomi yang lebih berat untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Selain itu, mahalnya harga beras juga berdampak pada tingkat inflasi secara keseluruhan di Indonesia. 

Untuk mengatasi masalah harga beras yang mahal, diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dan terkoordinasi. Peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan teknologi pertanian yang modern, serta pengawasan yang ketat terhadap praktik kartel dan monopoli dapat menjadi langkah awal yang efektif. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan kebijakan yang berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mengendalikan harga beras agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code