Ad Code

Euforia Tahun Baru dan Jejak Sampah Kita

Sampah berserakan setelah perayaan tahun baru [Foto: inews.id]

SETIAP 31 Desember, banyak dari kita berkumpul di pusat keramaian, berbagai tempat hiburan ataupun sepanjang jalanan kota untuk menyambut pergantian tahun dengan sorak sorai, kembang api, dan hitungan mundur penuh harapan. Namun begitu pagi berganti Januari 1, yang tersisa seringkali bukan hanya kenangan bahagia, melainkan gunungan sampah yang mencerminkan jejak sampah kita sekaligus pola konsumsi kita.

Di Jakarta misalnya, mengutip beritajakarta.id, perayaan malam Tahun Baru 2026 menyisakan sekitar 91 ton sampah di jalanan setelah perayaan usai. Angka ini menurun cukup signifikan dibandingkan dengan 132 ton pada 2025, tetapi tetap menjadi tantangan besar bagi pengelola kota dan masyarakat umum. 

Penurunan volume sampah itu memang patut disyukuri. Namun, 91 ton berarti ribuan kantong plastik, botol minuman, bungkus makanan, dan sisa kembang api bertebaran di area perayaan utama seperti Bundaran HI, SCBD, Monas, dan sekitarnya hanya dalam satu malam. Sampah yang kita hasilkan selama beberapa jam pesta itu membutuhkan waktu panjang, tenaga besar, dan biaya yang tidak sedikit untuk dibersihkan. 

Bukan hanya di Jakarta. Di Bandung, misalnya, perayaan tahun baru 2025 sebelumnya menyisakan sekitar 57 ton sampah—meskipun menurun dari tahun sebelumnya.  Bahkan di luar negeri, seperti di beritakan NST Online, di Kuala Lumpur, otoritas lokal mencatat sekitar 3,2 ton sampah hanya dari tiga titik seremonial utama setelah perayaan Tahun Baru 2026. 

Data-data ini menunjukkan bahwa budaya pesta tahunan juga berdampak serius terhadap lingkungan. Sampah plastik sekali pakai, botol kaca, kertas kemasan, dan sisa makanan menjadi bukti nyata konsumerisme kita. Dan lebih dari itu, komposisi sampah yang dominan adalah jenis tak mudah terurai—yang memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk lenyap dari alam.

Kita tentu bangga ketika jalanan bersih kembali setelah petugas kebersihan bekerja keras semalaman, tetapi pertanyaan pentingnya adalah mengapa harus jauh untuk membuang sampah dengan sia-sia? Bukankah kita bisa merayakan dengan cara lebih sadar lingkungan?

Perubahan kecil dari kita bisa berdampak besar. Misalnya, membawa tumbler sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas kain untuk makanan, atau secara sadar memilah sampah di tempat kita berdiri bisa mengurangi beban kebersihan kota secara signifikan. Bahkan perilaku sederhana ini turut mempengaruhi penurunan jumlah sampah seperti yang terlihat di Jakarta pada 2026. 

Selain itu, tanggung jawab bukan hanya di pundak petugas kebersihan. Kita semua harus terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Setiap tahun baru bukan hanya pergantian tanggal semata, atau catatan-catan resolusi pribadi, tetapi juga kesempatan untuk menata ulang kebiasaan kita sehingga tahun baru yang lebih bermakna dengan cara menjaga bumi. Agar setelah detik-detik kebahagiaan berlalu, yang tersisa bukan sampah, tetapi ruang publik yang bersih, udara yang segar, dan harapan baru yang terwujud tanpa merusak lingkungan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code