Ad Code

Ketahanan Pangan Jombang di Persimpangan Jalan


KETAHANAN pangan bukan sekadar soal beras tersedia di lumbung atau pasar yang ramai oleh komoditas pertanian. Lebih dari itu, ketahanan pangan menyangkut kemampuan suatu daerah ataupun negara dalam menjamin ketersediaan pangan yang cukup, aman, merata, dan terjangkau secara berkelanjutan. Dalam konteks Kabupaten Jombang, data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik Jombang di akhir 2025 lalu, menunjukkan bahwa kita memiliki modal sumber daya pangan yang kuat, tetapi sekaligus menghadapi tantangan struktural yang tidak bisa diabaikan jika target swasembada pangan ingin benar-benar tercapai pada tahun-tahun mendatang.

Dari sisi produksi tanaman pangan, padi masih menjadi tulang punggung ketahanan pangan Jombang. Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024 luas panen padi mencapai sekitar 70,7 ribu hektare, turun sekitar 3,1 persen dibanding 2023. Penurunan ini terutama terjadi di beberapa kecamatan sentra, seperti Bandar Kedung Mulyo, Perak, dan Sumobito. Namun, di sisi lain, sejumlah kecamatan justru mengalami peningkatan luas panen, antara lain Diwek, Ngoro, dan Mojowarno. Pergeseran ini memberi sinyal bahwa lahan sawah di Jombang masih dinamis dan adaptif, meski secara agregat mengalami tekanan.

Produksi padi secara total juga menurun sekitar 2,1 persen. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya luas panen, bukan karena anjloknya produktivitas. Produktivitas padi relatif stabil di kisaran 6,2 ton per hektare. Artinya, problem utama kita bukan pada kemampuan petani mengolah lahan, melainkan pada keberlanjutan areal tanam dan konsistensi musim tanam. Dalam jangka pendek, kondisi ini masih aman. Namun, dalam jangka menengah, kita perlu waspada terhadap alih fungsi lahan dan ketergantungan pada pola tanam konvensional.

Selain tanaman pangan, sektor peternakan juga memainkan peran penting dalam ketahanan pangan berbasis protein hewani. Tahun 2024, populasi ternak Jombang didominasi kambing, mencapai lebih dari 99 ribu ekor atau sekitar 42 persen dari total ternak. Namun, secara total jumlah ternak justru menurun 1,7 persen dibanding 2023. Penurunan paling tajam terjadi pada sapi potong, yang turun hampir 10 persen. Padahal, sapi potong memiliki nilai strategis baik secara ekonomi maupun gizi. Fakta ini menunjukkan bahwa penguatan peternakan besar membutuhkan perhatian khusus, mulai dari ketersediaan pakan, manajemen usaha ternak, hingga stabilitas harga.

Sementara itu, sektor perikanan justru menunjukkan tren yang lebih positif. Produksi perikanan Jombang pada 2024 meningkat, dengan hampir 98 persen berasal dari perikanan budidaya. Kecamatan Ngoro menjadi penyumbang terbesar, dengan kontribusi lebih dari 40 persen produksi perikanan kabupaten. Ini menegaskan bahwa perikanan budidaya merupakan salah satu potensi unggulan yang bisa terus dikembangkan sebagai penyangga ketahanan pangan, terutama di tengah keterbatasan lahan pertanian darat.

Namun, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi. Faktor pendukung seperti tenaga kerja dan struktur ekonomi daerah sama pentingnya. Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa hanya sekitar 22,5 persen penduduk Jombang yang bekerja di sektor pertanian pada 2024. Ini menandakan bahwa pertanian semakin kurang diminati, terutama oleh generasi muda. Jika tren ini berlanjut, kita berisiko mengalami kekurangan tenaga kerja pertanian dalam jangka panjang, meski lahan dan teknologi tersedia.

Dari sisi ekonomi makro, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Jombang. Kontribusinya terhadap PDRB mencapai sekitar 17,4 persen pada 2024 dan menempati posisi tiga besar. Meski demikian, kontribusi ini terus menurun sejak 2017. Penurunan tersebut bisa dibaca sebagai tanda diversifikasi ekonomi, tetapi juga peringatan bahwa pertanian belum mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan.

Di sinilah tantangan sekaligus peluang kita. Ketahanan pangan Jombang tidak cukup dijaga dengan hanya meningkatkan produksi semata. Kita perlu mendorong modernisasi pertanian, memperkuat hilirisasi, serta menciptakan ekosistem yang membuat sektor ini kembali menarik dan menjanjikan. Dengan modal lahan yang masih luas, produksi yang relatif stabil, dan potensi perikanan budidaya yang besar, Jombang sesungguhnya memiliki fondasi kuat untuk mendukung swasembada pangan. Tinggal bagaimana kita, sebagai pemangku kepentingan bersama, mampu mengelola potensi itu secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code