Jika kita melihat data ekonomi terbaru, ada gambaran yang menarik sekaligus kontras antara angka tertulis dan pengalaman hidup banyak orang. Secara makro, perekonomian Indonesia diproyeksikan akan tetap tumbuh sekitar 4,9%–5,0% pada 2026 menurut beberapa lembaga riset ekonomi besar. Pertumbuhan ini secara historis dianggap cukup solid, terutama di tengah ketidakpastian global dan konflik perdagangan yang masih bergulir. Data ini memberi harapan bahwa ekonomi kita tetap tangguh dan bergerak maju.
Namun ketika kita berbicara tentang apa yang kita rasakan, terkadang kenyataannya terasa jauh lebih kompleks. Harga kebutuhan pokok sering kali naik lebih cepat dari yang kita harapkan. Inflasi, meskipun berada dalam rentang yang dikendalikan oleh otoritas moneter, tetap membuat belanja bulanan terasa lebih berat, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Bahkan inflasi bahan pangan yang menjadi bagian besar dari konsumsi keluarga sering berfluktuasi akibat bencana alam atau gangguan produksi. Dalam beberapa bulan akhir 2025, inflasi di Indonesia naik mendekati 2,9%, meskipun ini masih dalam target bank sentral, tetapi jelas terasa di kasir pasar dan warung–warung kecil.
Kita pun mungkin pernah mengikuti berita soal konsumsi rumah tangga yang terus disebut sebagai motor utama perekonomian. Di laporan resmi, komponen ini sering disebut sebagai kontribusi terbesar terhadap PDB, bahkan mencapai lebih dari setengah total output pada kuartal tertentu. Ini menggambarkan bahwa betapa pun susahnya, kita sebagai konsumen tetap menyumbang besar bagi roda ekonomi nasional. Namun sepintas angka itu bisa membuat kita berpikir dan bertanya-tanya, jika konsumsi tetap tinggi, mengapa biaya hidup sering terasa kian menekan?
Respons terhadap pertanyaan ini bisa jadi sederhana, misalnya angka statistik tidak pernah sepenuhnya mencerminkan pengalaman hidup kita sehari-hari. Angka PDB yang tumbuh bisa saja datang dari sektor tertentu yang justru tidak terasa langsung di kehidupan umum, misalnya ekspor komoditas atau investasi industri yang skalanya besar, sementara kita masih bergumul dengan harga sayur yang naik, tiket transportasi yang melonjak, atau biaya sekolah yang terus bertambah.
Kita juga sering mendengar pencapaian indikator ketenagakerjaan yang makin baik, dengan angka pengangguran turun di statistik resmi. Bagi sebagian masyarakat, berita ini memberi napas lega karena ada kesempatan kerja baru. Tetapi begitu kita berbicara dengan tetangga, teman, atau kolega yang bekerja paruh waktu atau kontrak sementara, kita tahu bahwa kualitas pekerjaan, upah yang layak, dan kestabilan pendapatan tetap menjadi perjuangan nyata. Data statistik belum tentu menggambarkan ketidakpastian dan kecemasan yang kita rasakan ketika harus menunggu gajian sambil menghitung kebutuhan sebulan penuh.
Cerita lain adalah tentang neraca perdagangan yang sesekali mencatat surplus. Secara teknis, ini bukan hal sepele—surplus perdagangan berarti negara mengekspor lebih banyak dari yang diimpor, yang secara teori menambah cadangan devisa dan menguatkan posisi ekonomi nasional. Namun di sisi lain, ketika harga komoditas utama jatuh atau permintaan global melemah, dampaknya bisa terasa di kantong kita sebagai petani, nelayan, atau pekerja di sektor komoditas. Surplus statistik tidak selalu berarti semua orang di negeri ini merasakan “keuntungan” yang sama dari posisi itu.
Oleh karenanya, tulisan ini bukan sekadar kritik terhadap angka. Angka-angka itu penting karena memberi gambaran besar tentang arah perekonomian, dan membantu pembuat kebijakan menentukan langkah selanjutnya. Tetapi sebagai masyarakat yang hidup di dalam arus ekonomi itu, kita juga perlu melihat lebih dalam, bagaimana kebijakan moneter, harga pangan, kesempatan kerja, dan daya beli memengaruhi keseharian kita.
Kalau kita hanya terpaku pada angka, kita mungkin lupa bahwa di balik statistik, ada jutaan cerita manusia yang tidak selalu tercatat dalam lembar angka. Pertumbuhan ekonomi 5 persen mungkin terlihat menawan di laporan, tetapi pertumbuhan itu harus terasa di meja makan, di harga beras, di ongkos sekolah, dan di masa depan anak-anak kita.
Jombang, 5 Januari 2026


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!