Ad Code

“Orang Desa Tak Pakai Dolar”, Benarkah Dampaknya Tidak Terasa?


PERNYATAAN Presiden Prabowo bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika mungkin terdengar menenangkan. Namun dalam kenyataan ekonomi hari ini, pelemahan rupiah tidak pernah berhenti di kota. Dampaknya perlahan mengalir hingga ke desa, masuk melalui harga kebutuhan sehari-hari yang terus bergerak naik.

Kita hidup dalam sistem ekonomi yang saling terhubung. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, bukan hanya importir besar atau pelaku pasar keuangan yang terkena dampaknya. Masyarakat desa pun ikut merasakan tekanan, meskipun tidak pernah memegang dolar secara langsung.

Banyak kebutuhan dasar masyarakat ternyata bergantung pada barang atau bahan baku impor. Sederhan Kebutuhan tahu dan tempe yang menjadi pangan favorit masyarakat desa, LPG yang dipakai untuk memasak, pupuk untuk pertanian, pakan ternak, obat-obatan, elektronik rumah tangga, hingga telepon genggam semuanya memiliki kaitan dengan dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat, lalu harga barang ikut terdorong naik. Pada akhirnya, beban itu jatuh ke masyarakat luas, termasuk petani dan warga desa.

Yang sering terlambat disadari adalah dampak kurs tidak selalu datang secara instan. Ada jeda waktu sebelum kenaikan harga benar-benar terasa di pasar tradisional atau warung desa. Namun begitu efeknya muncul, daya beli masyarakat biasanya sudah lebih dulu melemah. Penghasilan tetap, sementara kebutuhan terus naik.

Kondisi ini menjadi semakin rumit ketika ekonomi global sedang tidak stabil. Ketidakpastian perang, harga energi, dan arus modal dunia membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat. Dalam situasi seperti itu, publik membutuhkan kesiapan dan arah kebijakan yang jelas, bukan sekadar narasi atau pidato yang berapi-api tetapi justru "membakar" ketenangan masyarakat.

Kita tentu tidak ingin masyarakat panik. Tetapi kita juga tidak boleh dibuat merasa bahwa semuanya baik-baik saja ketika risiko ekonomi sedang meningkat. Sikap terlalu santai justru dapat membuat masyarakat tidak siap menghadapi kenaikan biaya hidup yang datang perlahan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa memukul sektor ketenagakerjaan. Jika industri di perkotaan mulai tertekan akibat biaya produksi yang naik, ancaman pemutusan hubungan kerja dapat meningkat. Ketika itu terjadi, desa akan kembali menjadi tempat pulang bagi banyak pekerja yang kehilangan penghasilan. Masalah sosial dan ekonomi baru pun dapat muncul di tingkat desa.

Karena itu, persoalan nilai tukar bukan sekadar urusan pasar keuangan atau elite ekonomi di Jakarta. Stabilitas rupiah berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ini adalah soal harga pangan, biaya produksi pertanian, kesempatan kerja, dan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar.

Kita membutuhkan kebijakan yang lebih siap menghadapi tekanan global sekaligus memperkuat fondasi ekonomi domestik. Ketergantungan terhadap impor harus dikurangi, sektor produksi dalam negeri diperkuat, dan perlindungan terhadap masyarakat kecil harus menjadi prioritas utama. Sebab ketika rupiah melemah, tetap saja seluruh lapisan masyarakat ikut menanggung dampaknya.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code