Sebagian tokoh teknologi dunia membayangkan masa depan di mana produktivitas meningkat secara eksponensial. Mesin cerdas dan sistem otomatis disebut-sebut akan mampu menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah melimpah dengan biaya yang sangat rendah. Dalam kondisi seperti itu, dunia diproyeksikan bergerak menuju kelimpahan, bukan kelangkaan. Kita dibayangkan bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai kebutuhan dasar dengan mudah, bahkan nyaris tanpa biaya. Jika skenario ini terwujud, konsep pensiun yang bergantung pada tabungan pribadi bisa berubah drastis.
Dalam gambaran ideal tersebut, setiap orang memiliki pendapatan tinggi secara universal, sehingga kekhawatiran tentang kehabisan uang di usia tua dianggap tidak lagi relevan. Kita tidak perlu lagi bekerja semata-mata untuk bertahan hidup, melainkan untuk tujuan, minat, dan makna personal. Namun, di balik optimisme itu, ada kenyataan bahwa perubahan besar jarang berjalan mulus. Masa transisi menuju dunia serba otomatis berpotensi memunculkan gejolak sosial, ketimpangan baru, dan kebingungan identitas ketika pekerjaan manusia semakin tergeser oleh mesin.
Sementara itu, kondisi ekonomi saat ini justru menunjukkan tantangan yang nyata. Banyak orang masih kesulitan menghadapi biaya hidup yang terus naik, akses perumahan yang mahal, serta ketidakpastian pendapatan. Bagi kita yang hidup di dunia nyata hari ini, masa pensiun terasa semakin jauh dan rapuh, bukan semakin aman.
Karena itu, sikap paling rasional adalah tidak terjebak pada ekstrem. Visi masa depan berbasis teknologi patut kita perhatikan dan siapkan, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan perencanaan keuangan yang realistis. Menabung dan berinvestasi tetap penting sebagai bentuk perlindungan diri, sambil kita tetap adaptif terhadap perubahan besar yang mungkin mengubah cara kita bekerja, hidup, dan menua di masa depan.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!