![]() |
| Ilustrasi [iStockphoto] |
Isra Mi’raj terjadi pada masa yang tidak mudah. Rasulullah SAW sedang berada dalam fase duka mendalam, yaitu wafatnya Khadijah, pendamping setia, dan Abu Thalib, pelindung utama. Tekanan sosial, penolakan, dan keletihan jiwa menjadi latar dari peristiwa besar ini. Dari sini, kita belajar bahwa perjalanan menuju cahaya sering kali justru diawali oleh gelap yang panjang. Ketika dunia terasa sempit, Allah membuka langit sebagai penghiburan dan penguatan.
Isra mengajarkan kita tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain. Tetapi Mi’raj mengajak kita naik, meninggalkan beban-beban duniawi yang menahan jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun kerap terjebak pada rutinitas yang menjemukan—ambisi, kecemasan, dan kelelahan yang berulang. Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa manusia tidak hanya diciptakan untuk bergerak horizontal, mengejar dunia, tetapi juga untuk menengadah vertikal, mencari makna dan ketenangan.
Hadiah utama dari Isra Mi’raj adalah perintah salat. Bukan kekuasaan, bukan kekayaan, melainkan ritual harian yang sederhana namun mendalam. Salat menjadi “mi’raj”-nya orang beriman, sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan berdialog dengan Sang Pencipta. Di sinilah kita diajak merenung, apakah salat kita sudah menjadi tangga cahaya, atau sekadar rutinitas yang kehilangan ruh?
Dalam salat, kita belajar disiplin waktu, kerendahan hati, dan kejujuran pada diri sendiri. Kita berdiri sama rendah, tanpa perbedaan status, jabatan, atau latar belakang. Semua tunduk pada satu arah. Ini pesan sosial yang kuat: bahwa di hadapan Tuhan, kita setara, dan karena itu di hadapan sesama, kita seharusnya saling memuliakan.
Isra Mi’raj juga mengajarkan keberanian untuk percaya pada hal-hal yang melampaui logika semata. Banyak orang pada masa itu meragukan kisah Rasulullah. Namun iman tidak selalu bertumpu pada apa yang kasat mata. Ia tumbuh dari kepercayaan, keikhlasan, dan kesediaan membuka hati. Dalam kehidupan modern yang serba rasional, kita sering lupa memberi ruang bagi dimensi spiritual. Padahal, tanpa spiritualitas, kemajuan justru bisa kehilangan arah.
Dengan demikian, Isra Mi’raj adalah cermin bagi perjalanan kita sendiri. Sejauh mana kita sudah melangkah dari keakuan menuju keikhlasan? Seberapa sering kita “naik” mendekat kepada nilai-nilai kebaikan, dan bukan sekadar larut dalam kebisingan dunia? Seberapa tinggi kita meniti tangga cahaya illahi? Semua perjalanan itu sedikit demi sedikit, dengan kesadaran bahwa setiap langkah batin yang jujur selalu bernilai di hadapan Tuhan.


0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!