Ad Code

Isra Mikraj dan Panggilan Sunyi untuk Bertobat secara Ekologis

Kerusakan Bumi [Ilustrasi: Freepik]

PERINGATAN Isra Mikraj kerap kita maknai sebagai peristiwa agung yang menghubungkan bumi dan langit, manusia dan Tuhan. Namun dalam suasana krisis ekologis yang kian terasa, pesan Isra Mikraj seolah memanggil kita untuk menoleh ke bawah, ke tanah yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan air yang kita gunakan setiap hari. Dalam peringatan Isra Mikraj tingkat negara di Masjid Istiqlal semalam (15/1/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tidak berhenti pada pengalaman langit, tetapi harus berbuah pada tanggung jawab di bumi.

Kita sering merasa sudah cukup religius dengan ritual, doa, dan simbol-simbol kesalehan. Padahal, sebagai khalifah di muka bumi, amanah kita bukan sekadar beribadah secara vertikal, melainkan juga merawat ciptaan Tuhan secara horizontal. Isra Mikraj, dalam makna ini, adalah undangan untuk melakukan pertobatan ekologis: sebuah kesadaran kolektif bahwa dosa pada alam adalah dosa yang dampaknya kembali kepada manusia sendiri.

Data kerusakan lingkungan di Indonesia memberi kita cermin yang jujur, meski pahit. Setiap tahun, ratusan ribu hektare hutan hilang akibat pembalakan dan alih fungsi lahan. Deforestasi bukan hanya merusak rumah satwa, tetapi juga memicu banjir, longsor, dan krisis air bersih. Dalam satu dekade terakhir, jumlah bencana ekologis—banjir, tanah longsor, kekeringan—mendominasi lebih dari 70 persen bencana nasional. Banjir bandang di penghujung November 2025 lalu adalah salah satu bukti hancurnya tatanan ekologi Pulau Sumatera yang lebih diakibatkan "tsunami tanda tangan" para penata negara. Kita juga menyaksikan sungai yang dulu jernih kini berubah menjadi saluran limbah, sementara kualitas udara di kota-kota besar kerap berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan.

Di titik inilah pesan “pertobatan ekologis” dari Menteri Agama menemukan relevansinya. Menjadi khalifah bukan berarti menguasai bumi tanpa batas, melainkan menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab. Lingkungan yang sehat bukan sekadar isu teknis atau kebijakan, tetapi fondasi spiritual. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kekhusyukan ibadah jika alam sekitar kita rusak, panas, kotor, dan penuh bencana? Bagaimana kita berbicara tentang rahmat bagi semesta jika tindakan kita justru mempercepat kehancurannya?

Nasaruddin juga mengajak kita merenungkan musibah sebagai “surat cinta Tuhan”. Pandangan ini mengajak kita berhenti sejenak dari sikap menyalahkan nasib, lalu bertanya dengan jujur, pesan apa yang hendak disampaikan? Bencana ekologis sering kali bukan datang tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kelalaian panjang. Hutan ditebang, sungai dipersempit, sampah dibiarkan menumpuk, lalu kita heran ketika banjir datang. Dalam bahasa iman, barangkali inilah teguran agar kita kembali ke jalan yang lebih arif.

Isra Mikraj mengajarkan keseimbangan antara langit dan bumi. Salat, yang diperintahkan dalam peristiwa itu, bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga pendidikan etika, termasuk etika lingkugan,  disiplin, kebersihan, keteraturan, dan kesadaran akan waktu. Nilai-nilai ini seharusnya menjalar ke cara kita memperlakukan alam. Merawat lingkungan adalah bentuk ibadah yang sunyi, sering tak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan panjang.

Oleh karena itu, peringatan Isra Mikraj seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan tausiyah, tetapi perlu kita turunkan menjadi tindakan kecil namun konsisten semacam mengurangi sampah, menjaga air, menanam pohon, mendukung kebijakan ramah lingkungan, dan menolak gaya hidup yang rakus sumber daya. Pertobatan ekologis bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang untuk berdamai kembali dengan alam.

Dengan demikian, perjalanan spiritual kita diuji bukan hanya di atas beludru sajadah, tetapi juga di hutan, sungai, dan udara yang merupakan titipan generasi mendatang. Jika Isra Mikraj adalah kisah naik ke langit, maka tanggung jawab kita hari ini adalah memastikan bumi tetap layak menjadi tempat kembali.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code