| Pulau Babi di Kabupaten Sikka, NTT [Foto: Dokumen Pribadi] |
Kenangan pahit itu terjadi pada 12 Desember 1992. Peristiwa gempa bumi mengguncang bagian timur Pulau Flores dan memicu tsunami dahsyat yang melanda Pulau Babi. Sebanyak 263 jiwa dari sekitar 700 penduduk kala itu dilaporkan meninggal dunia. Pulau kecil itu hampir seluruhnya tenggelam, rumah-rumah rata dengan tanah, dan kehidupan laut hancur tak bersisa. Pemerintah memutuskan untuk mengosongkan pulau, dan warga dipindahkan ke daratan utama, ke Desa Nangahale di Kecamatan Talibura.
Namun waktu punya cara sendiri untuk menyembuhkan luka. Alam yang dulu murka kini kembali menata dirinya. Laut di sekitar Pulau Babi mulai pulih, terumbu karang tumbuh dengan perlahan, dan ikan-ikan kembali menari di antara batuan karang yang mulai hidup. Sebagian warga yang dulu meninggalkan pulau, perlahan kembali, tidak untuk membangun rumah permanen yang megah, tetapi rumah panggung sederhana khas masyarakat Bajo. Mereka memanfaatkan lahan yang kosong, bertani, beternak, dan melaut. Kehidupan pun kembali berdenyut di pulau yang sempat menjadi saksi bisu keganasan alam.
Bagi pencinta petualangan dan pecinta alam, Pulau Babi bisa menjadi destinasi yang unik dan sarat makna. Bayangkan, berada di sebuah pulau yang dulu pernah tenggelam, namun kini menawarkan keindahan luar biasa, seakan menantang siapa pun untuk menyelami cerita di balik setiap pasir dan ombaknya. Salah satu daya tarik utama pulau ini adalah patahan di dasar laut yang terbentuk akibat gempa. Patahan ini menyerupai jurang sepanjang 100 meter dengan kedalaman mencapai 10 hingga 20 meter. Dari atas perahu motor, garis patahan ini terlihat jelas, seolah membelah lautan menjadi dua.
Bagi penggemar snorkeling atau diving, Pulau Babi adalah surga tersembunyi yang belum banyak dijamah. Air lautnya jernih kebiruan, memungkinkan siapa saja melihat langsung karang-karang putih yang terhampar di dasar laut. Biota laut seperti ikan warna-warni, bintang laut, hingga terumbu karang eksotik, menjadi atraksi alami yang menghipnotis.
Sensasi berada di Pulau Babi tidak hanya ditawarkan oleh keindahan alam bawah lautnya. Suasananya yang tenang, jauh dari kebisingan kota, membuat siapa pun yang datang merasa seperti sedang berdialog dengan alam. Tak ada hotel mewah di sini. Tak ada restoran berkelas. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan Pulau Babi. Wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan warga lokal, menyantap hasil laut segar, atau sekadar duduk di atas pasir putih menikmati matahari terbenam.
Pulau ini bukan hanya tentang destinasi wisata, tetapi juga tentang pelajaran hidup. Ia mengajarkan kita bahwa kehancuran bisa menjadi awal dari kehidupan baru. Ia memberi pesan bahwa alam bisa marah, tetapi juga bisa memaafkan. Dan di situlah letak daya tarik Pulau Babi—ia bukan sekadar pulau indah, tetapi sebuah tempat yang mengajak kita merenung, sekaligus mengagumi ketangguhan alam dan manusia.
Mengunjungi Pulau Babi adalah seperti membuka lembaran lama dalam sejarah Indonesia yang hampir terlupakan, namun penting untuk diingat. Tragedi 1992 itu meninggalkan bekas luka, tetapi juga menanam harapan. Setiap langkah kaki di pasirnya, setiap percikan air laut di wajah, seolah membawa kita lebih dekat dengan cerita-cerita tentang keberanian, kehilangan, dan ketabahan. Pulau Babi. Pulau kecil yang pernah tenggelam, kini kembali bersinar.

0 Komentar
Thanks for your visiting and comments!